Wednesday, 1 April 2026

Mie Kopyok Semarang


Hai hai!

Sebelumnya, mohon maaf lahir batin untuk blog-ku yang sangat jarang aku sentuh. Semoga ke depannya aku bakal isi dengan banyak hal, terutama cerita-ceritaku tentang kuliner dan gastronomi. Ya ya ya, hampir tiap tahun rutin menulis blog jadi resolusi yang bisa dibilang omong kosong, tapi ayo coba lagi di tahun 2026 ini. Ada aamiin?!

Kali ini aku mau berbagi resep salah satu sajian yang aku buat untuk misi menghabiskan sisa ketupat Lebaran kemaren. Karena cuaca Jogja panas terus, jadi butuh yang seger dan gak berat. Jadi sebelumnya aku sudah olah ketupat jadi Tahu Guling "Mbantul" yang resepnya sudah aku share disini.

Karena umur ketupat ini hampir habis alias expired 2 hari lagi, aku putar otak mau dibikin apa. Tiba-tiba mama cerita waktu kuliah di Undip dan hari-harinya waktu di Semarang. Ah, keluar lah ide bikin Mie Kopyok aja!

Oh by the way, ada cerita menarik tentang Mie Kopyok di keluargaku. Jadi orangtuaku punya aku dan kakakku setelah 2 tahun pernikahan. Suatu hari orangtuaku main ke rumah budhe di Semarang, mereka makan Mie Kopyok yang langganan mama waktu masih tinggal di sana. Selang beberapa lama, mamaku hamil kakakku. Lucunya, hal yang sama terjadi di kehamilan mama yang kedua, yaitu aku. Memang kehendak Tuhan aja sebenernya, tapi kok ya bisa sama persis.

Lalu cerita ini selalu jadi ice breaking almarhum papa tiap ada saudaranya yang udah menikah tapi belum punya anak. Beliau selalu menyarankan main ke Semarang buat makan Mie Kopyok biar cepet hamil. Surprisingly banyak yang coba dan ada yang berhasil. Dan cerita ini aku ceritakan juga ke teman-temanku yang lagi promil. Haha..

Kembali ke Mie Kopyok. Sajian khas Semarang ini bikinnya gampang sekali, bahannya pun sangat sederhana. Isiannya ada potongan ketupat, mie kuning, tahu pong, tauge rebus, kuah gurih, remukan kerupuk gendar, irisan seledri, bawang goreng, dan kecap manis. Tambah sambal ulek kalau suka. Walaupun sangat sederhana, tapi rasanya ringan dan cocok sekali dimakan waktu siang-siang.

 

Mie Kopyok Semarang


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahan-bahan:

2-3 buah ketupat, potong-potong

250 gr mie kuning basah (bisa diganti mie telur)

5-6 potong tahu pong

2 genggam tauge panjang

Bahan Kuah:

3-4 siung bawang putih, haluskan

1 1/2 sdt garam

1 blok kaldu sapi atau ayam (bisa ganti totole atau penyedap lainnya)

1/2 sdt merica bubuk 

1500 ml air 

Pelengkap:

Kerupuk gendar

Irisan seledri

Bawang Goreng

Kecap manis

 

Cara Membuat:

Rebus sebentar tahu pong, tauge, dan mie kuning secara terpisah. Sisihkan.

Kuah: Rebus air sampai mendidih. Masukkan bawang putih, garam, merica halus, dan kaldu blok, masak selama 15 menit. Koreksi rasa. Jika sudah pas, matikan api.

Penyelesaian: Tata irisan ketupat, mie kuning, irisan tahu pong, tauge, lalu siram dengan kauh secukupnya. Beri remukan kerupuk gendar, irisan seledri, bawang goreng, dan kecap manis secukupnya. Sajikan.

Catatan: Jika ingin pedas, beri cabai rawit yang digerus di piring sebelum penyelesaian.

 

Dicoba di rumah ya! Semoga mengispirasi! 

Sunday, 9 November 2025

Walking Tour bersama @Djedjak.Rasa Edisi Kotagede

Hola!

Kali ini aku ingin cerita pengalamanku ikut walking tour dengan tim Djedjak Rasa beberapa waktu lalu. Awalnya aku mager mau share di blog, tapi kok sayang kalau gak aku ceritakan disini. So, here you go.

Beberapa waktu lalu aku mengikuti walking tour dengan Djedjak Rasa disekitar Kotagede, salah satu rute yang sudah aku pengen dari lama dan baru kesampaian. Rute Kotagede kali ini berbeda dari biasanya. Karena tour berbarengan dengan Pasar Lawas Mataram, jadi rute Pasar Legi ditiadakan. Walaupun begitu, gak mengurangi keseruan agenda jalan-jalan kali ini. Walaupun cuaca kala itu panasnya ampuuun!
 
 
Kami berkumpul di titik temu yang sudah di share di group chat, yaitu taman kota RTHP Bumen, Kotagede. Sebelum jalan-jalan, kami berkenalan satu sama lain dan mendengar sedikit cerita tentang sejarah Kotagede dari tim Djedjak Rasa. Kotagede dahulu merupakan bagian dari hutan Alas Mentaok sebelum menjadi wilayah Kesultanan Mataram Islam dan menjadi wilayah perabadan Islam tertua di Yogyakarta. Dan kini kita masih bisa merasakan budaya Jawa-Islam yang terlihat dari bentuk bangunan maupun kehidupan warga Kotagede.

 

Singkat cerita  kami mulai berjalan menyusuri jalanan kampung menuju pengrajin kue kembang waru khas Kotagede yang proses pembuatannya masih sangat tradisional. Usaha tersebut dikelola oleh pasangan suami-istri, Pak Bas dan Bu Gidah sejak tahun 1983. Perjalanan menuju ke sana tidak terlalu lama, mungkin hanya 5 menit saja.

Sesampainya di sana, kami disambut oleh Pak Bas dengan senyumnya yang sumringah. Kami langsung dipersilahkan untuk masuk ke dalam dapur untuk melihat langsung proses pembuatan kue kembang waru. Tempatnya sangat sederhana. Di dapur terlihat bu Gidah sedang menuangkan adonan ke dalam cetakan di depan oven tradisional yang masih menggunakan arang. Disana juga aku melihat ada adonan roti yang sedang dikocok dengan alat yang wujudnya gak seperti mixer pada umumnya. Sepertinya custom. Unik ya?

Gak perlu menunggu lama untuk bisa menikmati roti kembang waru karena sudah ada roti-roti yang baru matang tersusun rapi di atas tampah bambu. Pada dasarnya, roti kembang waru adalah sponge cake atau bolu. Rasanya sederhana, manisnya pas, ringan, dan airy. Dan ada aroma smokey tipis dari penggunaan arang yang menjadi bahan perapian. Ah cocok sekali buat teman minum kopi atau teh di pagi atau sore hari.

Kata Pak Bas, dulunya roti kembang waru terbuat dari gula jawa, tepung ketan dan telur kampung. Namun karena perkembangan jaman dan perkembangan selera, kini bahan yang digunakan diganti menjadi gula pasir, tepung terigu, dan telur ayam broiler. Selain itu penggantian bahan-bahan juga bisa menekan harga agar tetap murah namun masih bisa dinikmati oleh banyak orang. 

Roti kembang waru ini juga punya cerita filosofinya loh. Kue kembang waru berbentuk bunga dengan delapan kelopak yang memiliki arti 8 elemen kehidupan; air, api, tanah, udara, matahari, bulan, bintang, dan langit. Dan setiap elemen memiliki artinya masing-masing, namun jujur aku lupa apa saja artinya. Tapi intinya, tiap kali kita menyantap kue kembang waru ini diharapkan bisa menjadi pengingat 8 elemen kehidupan tersebut.


Sebelum kami ke tempat selanjutnya, kami diajak bernyanyi lagu kembang waru yang iconic ciptaan pak Bas. FYI, pak Bas dahulu seorang seniman lakon ketoprak dan macapat loh. Makanya waktu kita diajak ambil nada, pak Bas bisa tahu dengan mudah kalau ada yang melenceng dari nada. Lucunya kami masih menyanyikan potongan lagu kembang waru selama perjalanan sampai acara selesai. Lagunya sangat nempel di otak kami. Hahaha..

Rute selanjutnya, kami dibawa ke tempat pengrajin perak “Salim Silver”. Di sana kami bisa melihat proses pembuatan kerajinan perak secara langsung. Para pengrajin terlihat serius dan telaten mengerjakan kerajinan perak. Selain itu kami juga diajak ke galeri untuk melihat produk yang dibuat; dari aksesoris, alat makan, sampai pajangan-pajangan yang cantik.


Kerajinan perak di Kotagede sudah tersohor sejak dulu, bahkan dari jaman Kerajaan Mataram. Saat era Covid-19, kerajinan perak Kotagede mengalami penurunan yang sangat drastis karena tidak ada wisatawan yang datang dan bahan baku yang semakin mahal. Para pengrajin akhirnya lebih fokus menjual kerajianan perak yang lebih banyak peminatnya seperti aksesori dan memasarkannya lewat pasar online sehingga bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Perlahan-lahan ekonomi semakin baik dan para pengrajin bisa bertahan sampai saat ini.

Lalu kami mulai berjalan lagi menuju ke rute selanjutnya. Sebelumnya kami diajak mampir sebentar di Pasar Legi. Sambil berteduh dari sinar matahari yang terik, tim Djedjak Rasa bercerita sedikit tentang Pasar Legi. Jujur, aku gak bisa banyak menangkap info kala itu. Hahaha, serius panas sekali loh. Tapi info yang aku bisa tangkap adalah Pasar Legi biasanya akan lebih meriah di saat hari Legi (salah satu hari Kalender Jawa). Yang dijajakan akan makin beragam dan pasar dibuka sampai malam. 


Lanjut! Rute selanjutnya kami diajak ke Jalan Rukunan, dimana terdapat kompleks pemukiman yang bangunannya masuk dalam Cagar Budaya Yogyakarta. Jalan Rukunan dikenal dengan sebutan Between Two Gates (diantara dua gerbang dan Lawang Pethuk (pintu yang bertemu). Kompleks ini sudah berdiri sejak tahun 1800an. Walaupun sudah banyak perubahan, namun beberapa bangunan masih mempertahankan tata ruang rumah tradisional. Sampai saat ini, kompleks pemukiman ini masih dihuni oleh beberapa keluarga. Oh ya, karena bangunan-bangunan masuk ke dalam cagar budaya, renovasi tidak boleh dilakukan sembarangan. Harus ada persetujuan dari pemerintah provinsi. Gak bisa tuh ujug-ujug renovasi jadi rumah scandanavian atau Japanese minimalism.


Cuaca makin panas, namun semangat masih membara! Dan rute selanjutnya adalah Pasar Lawas Mataram yang diselenggarakan di pelataran halaman Masjid Besar Mataram, Kotagede. Sebagai jajanan pasar mania mantap, tentu saja aku happy banget! Disana banyak sekali jajanan pasar tradisional yang sudah dikurasi panitia, jadi jajanannya sangat beragam.

Sesampainya di Lokasi kami diajak berkeliling bersama panitia Pasar Lawas Mataram dan juga mendengarkan penjelasan tentang acara yang sedang berlangsung. Karena kami datang di pagi hari dan pengunjung belum begitu banyak yang datang, jadi kami bisa leluasa berkeliling.


Jajanan yang pertama aku beli adalah Es Belimbing Wuluh dengan ekstra es batu. Duh ternyata seger banget ya! Lalu aku mampir ke jajanan pasar khas Kotagede, Kipo alias iki opo. Kayaknya kalau ke Kotagede gak bawa pulang jajajanan manis ini kayak kurang afdol.


Karena banyak jajajanan yang dijajakan, jadi aku memutuskan untuk beli jajanan yang belum pernah aku temui atau jarang aku temui di pasar-pasar yang sering aku kunjungi. Tenan selanjutnya yang aku kunjungi yaitu penjaja Legomoro. Legomoro artinya datang dengan rasa lega, biasanya jajananan ini dijadikan hantaran pernikahan dari keluarga pengantin Wanita untuk pengantin pria. Di tenan tersebut juga menjajakan cemilan bernama Prawan Kenes. Basically pisang panggang yang diiris tipis lalu dijapit dengan bambu dan diberi saus santan kental. Rasanya tentu saja rasanya manis, gurih, dan smokey tipis. Prawan Kenes artinya gadis genit, entah kenapa dinamai nama tersebut. Bahkan ibu penjualnya pun gak tahu kenapa.

Itu saja? Tentu tidak! aku juga jajan beberapa jajanan lain seperti gombrong, getuk kicak, jenang tape, dan es rujak kweni yang segar banget!

Setelah puas mengunjungi Pasar Lawas Mataram, kami lanjut berjalan kaki menuju ke lokasi terakhir untuk makan siang bersama di Warung Jawi. Tak hanya makan siang, kami juga diajak menceritakan kembali pengalaman yang berkesan selama walking tour ini. Ah rasanya menyenangkan sekali bisa ikut walking tour kali ini. Walaupun awalnya canggung, namun makin lama kami makin bisa membaur. Ah senangnya! Sepertinya aku bakal ikut walking tour lagi, namun di rute yang berbeda.

Oh ya, jika kalian tertarik dengan walking tour dengan tim Djedjak Rasa, kalian bisa follow instagramnya @Djedjak.Rasa. Disana kalian bisa lihat jadwal kapan walking tour diadakan dan juga agenda-agenda seru lainnya.

Sampai ketemu lagi, kapan-kapan!

Wednesday, 11 June 2025

Abura Soba ala D.O EXO (Versi Halal)


Lagi-lagi aku recook masakan yang terinspirasi dari variety show Korea yang aku tonton. Kali ini aku share resep Abura Soba yang dibuat Doh Kyungsoo aka D.O EXO saat di Hokaido, Jepang di variety Show “No Math School Trip”.

 

Di variety show ini, Kyungsoo membuatnya dengan versinya sendiri. Mie soba dipadukan dengan lard atau lemak babi, kecap asin, potongan daun bawang, mema atau acar rebung, tumisan daging, cincangan bawang Bombay, nori, onsen egg, dan terakhir diberi tahuran biji wijen sangrai halus dan gochugaru. Menurut peserta lain yang sudah mencicipi Abura Soba, seperti Zico, Crush, Choi Jung Hoon “Jannabi”, Yang Se Chan, dan Lee Yong Jin, rasanya enak sekali kayak bikinan chef. Kata mereka, Kyungsoo udah cocok untuk buat restaurant. Wah jadi makin penasaran sama masakannya Kyungsoo, apalagi dia kan terkenal jago masak dan punya Korean Cuisine Chef License. Juga pernah menjadi juru masak di kamp militer saat menjalani wajib militer.

Selain di No Math School Trip, Abura Soba menjadi salah satu menu yang di buat Kyungsoo bersama Kwangsoo di acara KKPP Food-GBRB Spinn Off  di Youtube Channel Moon. Di acara tersebut, mereka harus memasak Abura Soba untuk para pegawai Studio Moon. Dan lagi-lagi Abura Soba ala Kyungsoo mendapat banyak pujian.

Sejujurnya aku udah beberapa kali coba remake Abura Soba ala Kyungsoo ini tapi versi halal, tentunya. Aku udah coba berbagai macam mie; udon, mie telur, dan terakhir ini aku pakai angel hair pasta. Dan semuanya sama enaknya. Jadi kalau kalian gak punya soba, bisa pakai mie yang kalian punya di rumah.

Untuk tumisan ayam, aku paling suka pakai bumbu teriyaki. Rasa manis dari bumbu teriyaki bikin rasa makin seimbang. Tapi kalau pengen rasa asin gurih, saus teriyaki bisa diganti garam dan merica saja. Dan kalau gak bisa nemu mema atau rebung kaleng di daerahmu, bisa diganti dengan baby corn atau jagung muda yg sudah direbus.

Oh ya, aku juga sudah pernah share video masak Abura Soba di TikTok dan di kolom komentar ada yang bertanya “apa gak terlalu bau bawang?”. Nah, makanya bawang Bombay yang sudah dicincang perlu dicuci untuk mengurangi bau bawang yang menyengat. Aku sendiri dicuci sekali aja udah cukup, bau bawangnya masi terasa namun enggak terlalu strong. Cuma kalau mau lebih mellow lagi baunya, bisa dicuci 2-3 kali.

 

Resep Abura Soba

 

Bahan-bahan:

75 gr angel hair pasta

1 sdm minyak wijen

2,5 sdm kecap asin

Sejumput kaldu bubuk

 

Bahan-bahan Tumis Ayam Teriyaki:

75 gr daging ayam, potong-potong

1 sdt saus teriyaki

1 sdt bawang putih cincang

Sejumput lada hitam

Minyak untuk menumis

 

Pelengkap:

Onsen Egg atau telur rebus setengah matang

Irisan rebung kaleng

Bawang Bombay cincang, cuci 2-3li dengan air matang

Irisan daun bawang

Potongan nori

Biji wijen sangrai bubuk

Gochugaru atau cabai bubuk

 

Cara membuat:

Onsen Egg

Rebus air sampai mendidih, lalu matikan api. Masukkan telur ayam, rendam selama kurang lebih 15 menit. Jangan lupa aduk-aduk sesekali di menit-menit awal agar putih telur matang merata dan kuning telur masih setengah matang. Setelah 15 menit, angkat telur lalu pindahkan ke air dingin agar menghentikan proses pemasakan. Sudah deh, Onsen Egg siap digunakan.

Tumis Ayam Teriyaki

Campurkan semua bahan kecuali minyak, aduk rata dan diamkan selama kurang lebih 10 menit.
Panaskan minyak dalam wajan, tumis ayam sampai matang dan berwarna kecokelatan. Angkat, sisihkan.

Penyelesaian:

Rebus angel hair sampai matang.
Selagi menunggu pasta matang, siapkan mangkuk, masukkan minyak wijen, kaldu bubuk, dan kecap asin; aduk rata.
Masukkan angel hair pasta yang sudah matang ke dalam mangkuk, lalu tata bahan-bahan pelengkap diatasnya.
Sajikan.



Jangan lupa coba di rumah ya, semoga menginspirasi!