Hola!
Kali ini aku ingin cerita
pengalamanku ikut walking tour dengan tim Djedjak Rasa beberapa waktu lalu.
Awalnya aku mager mau share di blog, tapi kok sayang kalau gak aku ceritakan
disini. So, here you go.
Beberapa waktu lalu aku mengikuti
walking tour dengan Djedjak Rasa disekitar Kotagede, salah satu rute yang sudah
aku pengen dari lama dan baru kesampaian. Rute Kotagede kali ini berbeda dari
biasanya. Karena tour berbarengan dengan Pasar Lawas Mataram, jadi rute Pasar
Legi ditiadakan. Walaupun begitu, gak mengurangi keseruan agenda jalan-jalan
kali ini. Walaupun cuaca kala itu panasnya ampuuun!
Kami berkumpul di titik temu yang
sudah di share di group chat, yaitu taman kota RTHP Bumen, Kotagede. Sebelum
jalan-jalan, kami berkenalan satu sama lain dan mendengar sedikit cerita
tentang sejarah Kotagede dari tim Djedjak Rasa. Kotagede dahulu merupakan
bagian dari hutan Alas Mentaok sebelum menjadi wilayah Kesultanan Mataram Islam
dan menjadi wilayah perabadan Islam tertua di Yogyakarta. Dan kini kita masih
bisa merasakan budaya Jawa-Islam yang terlihat dari bentuk bangunan maupun
kehidupan warga Kotagede.
Singkat cerita kami mulai
berjalan menyusuri jalanan kampung menuju pengrajin kue kembang waru khas
Kotagede yang proses pembuatannya masih sangat tradisional. Usaha tersebut
dikelola oleh pasangan suami-istri, Pak Bas dan Bu Gidah sejak tahun 1983.
Perjalanan menuju ke sana tidak terlalu lama, mungkin hanya 5 menit saja.
Sesampainya di sana, kami
disambut oleh Pak Bas dengan senyumnya yang sumringah. Kami langsung
dipersilahkan untuk masuk ke dalam dapur untuk melihat langsung proses
pembuatan kue kembang waru. Tempatnya sangat sederhana. Di dapur terlihat bu
Gidah sedang menuangkan adonan ke dalam cetakan di depan oven tradisional yang
masih menggunakan arang. Disana juga aku melihat ada adonan roti yang sedang
dikocok dengan alat yang wujudnya gak seperti mixer pada umumnya. Sepertinya
custom. Unik ya?
Gak perlu menunggu lama untuk
bisa menikmati roti kembang waru karena sudah ada roti-roti yang baru matang
tersusun rapi di atas tampah bambu. Pada dasarnya, roti kembang waru adalah
sponge cake atau bolu. Rasanya sederhana, manisnya pas, ringan, dan airy. Dan
ada aroma smokey tipis dari penggunaan arang yang menjadi bahan perapian. Ah
cocok sekali buat teman minum kopi atau teh di pagi atau sore hari.
Kata Pak Bas, dulunya roti
kembang waru terbuat dari gula jawa, tepung ketan dan telur kampung. Namun
karena perkembangan jaman dan perkembangan selera, kini bahan yang digunakan
diganti menjadi gula pasir, tepung terigu, dan telur ayam broiler. Selain itu
penggantian bahan-bahan juga bisa menekan harga agar tetap murah namun masih
bisa dinikmati oleh banyak orang.
Roti kembang waru ini juga punya
cerita filosofinya loh. Kue kembang waru berbentuk bunga dengan delapan kelopak
yang memiliki arti 8 elemen kehidupan; air, api, tanah, udara, matahari, bulan,
bintang, dan langit. Dan setiap elemen memiliki artinya masing-masing, namun
jujur aku lupa apa saja artinya. Tapi intinya, tiap kali kita menyantap kue
kembang waru ini diharapkan bisa menjadi pengingat 8 elemen kehidupan tersebut.
Sebelum kami ke tempat
selanjutnya, kami diajak bernyanyi lagu kembang waru yang iconic ciptaan pak
Bas. FYI, pak Bas dahulu seorang seniman lakon ketoprak dan macapat loh.
Makanya waktu kita diajak ambil nada, pak Bas bisa tahu dengan mudah kalau ada
yang melenceng dari nada. Lucunya kami masih menyanyikan potongan lagu kembang
waru selama perjalanan sampai acara selesai. Lagunya sangat nempel di otak
kami. Hahaha..
Rute selanjutnya, kami dibawa ke
tempat pengrajin perak “Salim Silver”. Di sana kami bisa melihat proses
pembuatan kerajinan perak secara langsung. Para pengrajin terlihat serius dan
telaten mengerjakan kerajinan perak. Selain itu kami juga diajak ke galeri
untuk melihat produk yang dibuat; dari aksesoris, alat makan, sampai
pajangan-pajangan yang cantik.
Kerajinan perak di Kotagede sudah
tersohor sejak dulu, bahkan dari jaman Kerajaan Mataram. Saat era Covid-19,
kerajinan perak Kotagede mengalami penurunan yang sangat drastis karena tidak
ada wisatawan yang datang dan bahan baku yang semakin mahal. Para pengrajin
akhirnya lebih fokus menjual kerajianan perak yang lebih banyak peminatnya
seperti aksesori dan memasarkannya lewat pasar online sehingga bisa menjangkau
pasar yang lebih luas. Perlahan-lahan ekonomi semakin baik dan para pengrajin
bisa bertahan sampai saat ini.
Lalu kami mulai berjalan lagi
menuju ke rute selanjutnya. Sebelumnya kami diajak mampir sebentar di Pasar
Legi. Sambil berteduh dari sinar matahari yang terik, tim Djedjak Rasa
bercerita sedikit tentang Pasar Legi. Jujur, aku gak bisa banyak menangkap info
kala itu. Hahaha, serius panas sekali loh. Tapi info yang aku bisa tangkap
adalah Pasar Legi biasanya akan lebih meriah di saat hari Legi (salah satu hari
Kalender Jawa). Yang dijajakan akan makin beragam dan pasar dibuka sampai
malam.


Lanjut! Rute selanjutnya kami
diajak ke Jalan Rukunan, dimana terdapat kompleks pemukiman yang bangunannya
masuk dalam Cagar Budaya Yogyakarta. Jalan Rukunan dikenal dengan sebutan
Between Two Gates (diantara dua gerbang dan Lawang Pethuk (pintu yang bertemu).
Kompleks ini sudah berdiri sejak tahun 1800an. Walaupun sudah banyak perubahan,
namun beberapa bangunan masih mempertahankan tata ruang rumah tradisional.
Sampai saat ini, kompleks pemukiman ini masih dihuni oleh beberapa keluarga. Oh
ya, karena bangunan-bangunan masuk ke dalam cagar budaya, renovasi tidak boleh
dilakukan sembarangan. Harus ada persetujuan dari pemerintah provinsi. Gak bisa
tuh ujug-ujug renovasi jadi rumah scandanavian atau Japanese minimalism.


Cuaca makin panas, namun semangat
masih membara! Dan rute selanjutnya adalah Pasar Lawas Mataram yang
diselenggarakan di pelataran halaman Masjid Besar Mataram, Kotagede. Sebagai
jajanan pasar mania mantap, tentu saja aku happy banget! Disana banyak sekali
jajanan pasar tradisional yang sudah dikurasi panitia, jadi jajanannya sangat
beragam.
Sesampainya di Lokasi kami diajak
berkeliling bersama panitia Pasar Lawas Mataram dan juga mendengarkan
penjelasan tentang acara yang sedang berlangsung. Karena kami datang di pagi
hari dan pengunjung belum begitu banyak yang datang, jadi kami bisa leluasa
berkeliling.
Jajanan yang pertama aku beli
adalah Es Belimbing Wuluh dengan ekstra es batu. Duh ternyata seger banget ya!
Lalu aku mampir ke jajanan pasar khas Kotagede, Kipo alias iki opo. Kayaknya
kalau ke Kotagede gak bawa pulang jajajanan manis ini kayak kurang afdol.
Karena banyak jajajanan yang
dijajakan, jadi aku memutuskan untuk beli jajanan yang belum pernah aku temui
atau jarang aku temui di pasar-pasar yang sering aku kunjungi. Tenan
selanjutnya yang aku kunjungi yaitu penjaja Legomoro. Legomoro artinya datang
dengan rasa lega, biasanya jajananan ini dijadikan hantaran pernikahan dari keluarga
pengantin Wanita untuk pengantin pria. Di tenan tersebut juga menjajakan
cemilan bernama Prawan Kenes. Basically pisang panggang yang diiris tipis lalu
dijapit dengan bambu dan diberi saus santan kental. Rasanya tentu saja rasanya
manis, gurih, dan smokey tipis. Prawan Kenes artinya gadis genit, entah kenapa dinamai
nama tersebut. Bahkan ibu penjualnya pun gak tahu kenapa.
Itu saja? Tentu tidak! aku juga
jajan beberapa jajanan lain seperti gombrong, getuk kicak, jenang tape, dan es
rujak kweni yang segar banget!
Setelah puas mengunjungi Pasar
Lawas Mataram, kami lanjut berjalan kaki menuju ke lokasi terakhir untuk makan
siang bersama di Warung Jawi. Tak hanya makan siang, kami juga diajak menceritakan
kembali pengalaman yang berkesan selama walking tour ini. Ah rasanya menyenangkan
sekali bisa ikut walking tour kali ini. Walaupun awalnya canggung, namun makin
lama kami makin bisa membaur. Ah senangnya! Sepertinya aku bakal ikut walking
tour lagi, namun di rute yang berbeda.
Oh ya, jika kalian tertarik
dengan walking tour dengan tim Djedjak Rasa, kalian bisa follow instagramnya @Djedjak.Rasa.
Disana kalian bisa lihat jadwal kapan walking tour diadakan dan juga
agenda-agenda seru lainnya.
Sampai ketemu lagi, kapan-kapan!