Wednesday, 16 November 2016

Resep Sayur Bobor Bayam dan Sambal Jenggot

Holla..

Ah senangnya sekarang bisa sering nulis blog, akhir-akhir ini selalu ada aja inspirasi yang datang. Termasuk minggu lalu. Hari Minggu minggu lalu papa bawa oleh-oleh jajanan dari Pasar Ngasem sehabis sepedaan dengan teman-temannya. Papa bawa sayur bobor bayam lengkap dengan sambal jenggotnya, getuk alot, dan lupis. Nah yang jadi perhatianku adalah si sayur bobor ini karena papa bilang enak banget. Jarang-jarang papa bilang enak ke sayuran, soalnya papa agak picky kalau soal sayuran.

Oh anyway ada yang tidak tau sayur bobor? Sayur bobor adalah masakan jawa tengah yang terdiri dari sayuran hijau (bisa bayam, daun singkong, daun ubi, atau pun daun katu), kuah santan encer, dan pepaya muda atau labu siam. Cita rasanya gurih, sedikit manis, dan aromanya sedap. Aroma sedap ini berasal dari bawang putih, bawang merah, dan kencur.

Ah kembali ke sayur bobor yang dibawa papa. Sayur bobor bayam ini memang agak berbeda dengan sayur bobor yang pernah aku coba, lebih sedap karena penambahan daun kemangi di dalam sayur. Aku baru pertama kali mencoba sambal jenggot, ternyata sambal ini hampir mirip dengan bumbu gudangan atau pun terancam. Namun yang membedakannya adalah citarasanya lebih pedas dan terdapat tempe semangit (tempe yang sudah terlalu matang, biasanya digunakan sebagai penyedap dimasakan jawa). Sayangnya, walaupun sayur bobor ini sudah diimbangi dengan sambal jenggot, rasanya masih sedikit kemanisan buat lidahku. 

Karena itu aku jadi punya ide untuk bikin sayur bobor bayam dan sambal jenggot, sekalian nostalgia jaman kecil. Dulu sering banget dimasakin sayur bobor setiap pulang TPA sama simboknya mbak yang jagain aku dan kakakku, hihi..

Resep Sayur Bobor


Bahan-bahan:
  • 2 ikat bayam, petiki daunnya
  • 1/4 buah pepaya muda, iris agak tipis
  • 1 ikat kemangi, petiki daunnya
  • 1 ruas lengkuas, geprek
  • 2 lembar daun salam
  • 500 ml santan encer dari 1/2 butir kelapa
  • 1 liter air
  • 1 sdt garam
  • 2 sdt gula jawa
  • 1/4 sdt merica

Bumbu yg dihaluskan:
  • 2 siung bawang putih
  • 3 siung bawang merah
  • 1/2 sdt ketumbar
  • 1 ruas kencur
Cara membuat:

  • Rebus air sampai mendidih, masukkan bumbu halus, salam, dan lengkuas. Rebus hingga tercium harum. Masukkan pepaya muda, masak hingga pepaya 1/2 matang.
  • Masukkan santan, rebus sampai mendidih. Masukkan garam, merica, dan gula jawa. Aduk rata, cicipi. Jika dirasa kurang garam atau gula, bisa ditambahkan.
  • Masukkan bayam dan kemangi, masak sampai bayam layu dan matang. Matikan api, sajikan.


Resep Sambal Jenggot


Bahan-bahan:
  • 1 siung bawang putih
  • 6 buah cabe rawit (bisa ditambahkan jika suka pedas)
  • 1 ruas kencur
  • 3 sdm parutan kelapa
  • 1/2 buah tempe semangit
Cara Membuat:
  • Tumbuh halus semua bahan kecuali kelapa parut. Masukkan kelapa parut, aduk rata sambil sedikit diulek.
  • Panaskan kukusan, kukus sambal selama 10 menit.
  • Angkat, sajikan sambal sebagai pelengkap sayur bobor.

Sayur bobor ini paling nikmat disantap ketika sudah dingin, dengan nasi merah, tempe goreng, sambal jenggot. Duh, nikmat surga dunia banget!

Nah seperti yang sudah aku sebutkan diatas, bayam bisa diganti dengan daun singkong, daun ubi, ataupun daun katu. Tetapi untuk daun singkong dan daun ubi harus di rebus secara terpisah lalu diperas airnya ya, supaya gak ada rasa pahit sayur bobornya. Untuk pepaya mudanya, bisa diganti dengan labu siam atau labu parang, sama nikmatnya kok. Dan terakhir untuk sambal jenggot, kalau kurang suka tempe semangit bisa diganti dengan 1/4 sendok teh terasi atau bisa dihilangkan kalau gak suka.

Sekian untuk post kali ini, semoga bermanfaat. Selamat mencoba!

Monday, 7 November 2016

Halloween Food Idea : Resep Donat Labu

Boo!

Bulan Oktober merupakan bulan yang identik dengan Halloween day, walaupun sebenarnya bukan kebudayaan negara kita. Seumur-umur aku belum pernah ikut pesta Halloween tapi aku selalu excited  dengan the Halloween Hype; seperti dekorasi di mall-mall atau pun cafe, beragam makanan bertemakan Halloween yang gemas dan kadang ngeri, dan diskon. Haha kalau yang terakhir pasti semua suka juga kan?

Seperti ditahun-tahun sebelumnya, aku membuat makanan bertemakan Halloween. Dua tahun lalu aku membuat choco soil puding dan tahun lalu aku membuat eye ball panna cotta. Untuk tahun ini aku membuat sesuatu bertemakan Halloween juga, yaitu donat labu.

Donat labu ini gak kalah empuknya dengan donat kentang loh, dan yang paling aku suka dari donat labu ini adalah warnanya. Tanpa diberi pewarna makanan kuning, donat labu ini bisa berwarna kuning terang. Bikin gemes sendiri waktu ulenin adonan, abis gemes banget warnanya, bisa terang gitu loh. Kalau anak kecil pasti suka banget karena warnanya yang menarik.

Tadinya aku mau pakai resep donat kentang andalanku, tetapi tekstur kentang dan labu berbeda. Setelah aku browse resep sana-sini, akhirnya aku contek resepnya dari resep catatan-nina.blogspot.co.id. Dan seperti biasa aku mengurangi jumlah gulanya karena labu kan sudah lumayan manis, kalau terlalu banyak gula nanti jadi kurang nikmat.  Aku menggunakan labu parang untuk resep ini karena paling murah diantara kabocha dan butternut squash, hehe. Tapi kalau mau pakai kabocha atau pun butternut squash juga gak masalah kok..

Resep Donat Labu


Bahan-bahan:
  • 250 gr tepung terigu protein tinggi (contohnya cakra kembar)
  • 25 gr susu bubuk
  • 6 gr ragi instan
  • 60 gr gula pasir (aku kurangi menjadi 45 gr)
  • 100 gr pure labu (labu dikukus, keruk dagingnya)
  • 40 ml air dingin (aku buat 50 ml)
  • 2 butir kuning telur
  • 45 gr margarine
  • minyak untuk menggoreng
  • gula bubuk untuk taburan

Cara membuat:
  • Campurkan semua bahan kering kecuali gula halus. Masukkan pure labu, air, dan kuning telur, uleni sampai tercampur rata. Lalu masukkan margarine, uleni sampai kalis. Setelah kalis, bulatan adonan, tutup dengan plastik cling atau serbet bersih, dan istirahatkan adonan selama 15 menit atau sampai adonan mengembang 2 kali lipat.
  • Setelah 15 menit, keluarkan adonan, kempiskan. Bagi adonan menjadi dua agar mudah menggilingnya.
  • Taburi alas dan roller dengan tepung terigu tipis-tipis, giling adonan setebal kurang lebih 2 cm, lalu cetak adonan dengan cetakan donat. Ulangi sampai adonan habis. Istirahatkan.
  • Sambil menunggu adonan mengembang, panaskan minyak dengan api sedang.
  • Goreng adonan sampai mengembang dan kedua sisi berwarna cokelat keemasan.
  • Sajikan donat dengan taburan gula halus atau topping kesukaan.

Nah pertanyaan yang palig sering ditayakan ketika ingin membuat donat atau pun roti, kalisnya sampai seperti apa sih? Kalau menurut pengalamanku, adonan kalis ditandai dengan adonan yang halus, tidak lengket-lengket ditangan, dan jika ditekan sedikit adonan akan membal. Duh bahasaku, maksudnya membal tuh kalau ditekan adonan akan kembali naik. Umm, paham kan maksud aku? 



Kebetulan sekali ada kuis dari kokikutv (lagi) dan pas banget temanya Halloween, jadilah aku buat donat labu genderuwo. Kenapa genderuwo? Karena kebanyakan makanan bertemakan Halloween selalu berbau hantu barat, makanya aku mengangkat genderuwo ini untuk tema halloween food idea tahun ini. Tadinya sih mau aku bikin kayak jenglot, tapi gak ada kan jenglot gendut. Kecuali jenglotnya doyannya makan junkfood bukan darah atau sesajen lagi, haha..

Terakhir, jangan lupa dicoba ya resepnya dan semoga berhasil!  


Saturday, 22 October 2016

Remakes Recipe: Resep KFC Hot & Cheesy Chicken

Ada yang sudah coba menu baru KFC Hot & Cheesy Chicken?

Kalian pasti sudah tahu kan KFC mengeluarkan menu baru yaitu Hot & Cheesy Chicken, ayam goreng pedas dibalut dengan saus keju. Bayangkan aja, spicy fried chicken KFC yang sudah nikmat surgawi bertemu saus keju yang gurih, lalu dimakan dengan french fries (buat aku kalau nasi kurang cocok). Duh, surgawi banget ya!

Lalu diet pun bubar jalan, haha..

Gambar diambil dari www.kfcku.com

Aku sendiri sudah dua kali jajan menu KFC ini, yang pertama saus kejunya terlalu encer dan yang kedua saus keju lebih kental tapi sayang saus kejunya di siram bukannya ayam dicelup ke saus keju. Huhu, pegawainya labil deh :(

Kemarin lusa aku menemani temanku ke KFC buat coba menu baru ini. Temanku tanya "Kamu bisa bikin kayak gini?". Ah, jadi punya ide untuk coba bikin sendiri dan lumayan kan bisa jadi bahan blog. Aku coba googling resepnya, ternyata belum ada yang menuliskan resep menu baru KFC ini. Ya sudah, ku kerahkan ilmu yang aku punya yang selalu aku puja. Ilmu kira-kira Ata, hihi..

Jadi, untuk pos kali ini aku share 2 resep; yaitu resep ayam goreng KFC dan resep cheese sauce ala aku yang digabung menjadi Hot & Cheesy Chicken. Resep ini sebenarnya praktis banget, hanya saja harus sedikit sabar karena ayam harus direndam dalam butter milk berbumbu selama 3 jam sampai semalaman. Eits yang kesusahan menemukan buttermilk, tenaaaang aku bakal kasih tahu cara membuat buttermilk yang biasa aku gunakan.


Resep KFC Hot & Cheesy Chicken ala Ata Permana



Bahan:

  • 6 potong ayam (aku pakai paha)
  • 1 cup buttermilk (1 cup susu ditambah 1 sdt cuka)
  • 2 siung bawang putih, cincang halus
  • 1/4 sdt oregano
  • 1/4 sdt basil
  • 1/4 sdt thyme
  • 1/2 sdt paprika bubuk
  • 1/2 sdt cabai bubuk
  • 1/2 sdt merica
  • 1 sdt garam
  • Minyak untuk menggoreng

Bahan Pelapis:
  • 500 gr tepung terigu
  • 1 sdt garam
  • 1/2 sdt cabai bubuk
  • 1/2 sdt merica bubuk

Cara Membuat:
  • Campurkan buttermilk dengan bumbu-bumbu, aduk rata. Masukkan ayam, rendam ayam selama 3 jam sampai semalaman.
  • Campur bahan pelapis. Piasahkan ayam dengan bumbu rendaman. Gulingkan ayam ke tepung pelapis, tekan-tekan. Celupkan ayam yang sudah dilapisi tepung ke dalam bumbu rendaman, lalu gulingkan kembali ke tepung. Ulangi cara ini sampai ayam habis.
  • Panaskan minyak dengan api sedang, goreng ayam sampai kuning keemasan. Angkat, sisihkan.
  • Goreng ayam kembali sampai cokelat keemasan. Angkat.
  • Olesi ayam goreng dengan saus keju. Sajikan segera.

Resep Cheese Sauce




Bahan-bahan:

  • 70 gr keju cheddar parut
  • 150 ml susu cair
  • 3 sdt bubuk keju (french fries seasoning rasa keju)
  • sejumput gula

Cara Membuat:

  • Masukkan susu dan keju ke dalam panci, panaskan dengan api kecil. Aduk-aduk sampai keju leleh dan larut. Masukkan bubuk keju dan gula, aduk rata. Matikan api, tuang saus keju ke dalam jar atau toples. 

Tips dari aku, kalau ingin kulit yang kriting dan renyah, goreng ayam dalam minyak yang banyak sehingga ayam bisa terendam sempurna. Kalau enggak suka pedas bisa dihilangkan bubuk cabainya. Dan terakhir, jika saus keju sisa bisa disajikan sebagai cocolan french fries atau pun  nachos. Yummy!

Semoga berhasil!






Thursday, 13 October 2016

Kaldu Kokot, Sop Unik Dari Madura

Hai,

Tadi pagi papa menagih aku untuk masak buntut sapi yang papa beli beberapa waktu lalu, katanya jangan bikin sop buntut yang biasanya, harus berbeda katanya. Kebetulan sekali di freezer ada kaki sapi sisa qurban kemarin, akhirnya aku putuskan untuk membuat Kaldu Kokot, masakan dari Madura.

Gak terlalu banyak orang tahu masakan khas dari Madura selain sate dan nasi jagung. Kaldu artinya sop dan Kokot artinya kaki sapi, yah bisa disimpulkan kan Kaldu Kokot artinya sop kaki sapi. Keunikan dari masakan ini yaitu terdapat kacang hijau. Yes, kacang hijau yang biasa ada di bubur kacang hijau atau es serut. Agak terdengar aneh memang, kacang hijau yang biasanya ada di makanan manis tapi ini malah ada di sop kaki sapi. Dulu pun waktu pertama coba Kaldu Kokot di rumah budhe juga agak asing, tapi waktu dicoba ternyata enak juga. Rasanya seperti sop kacang merah, nikmat!

Kaldu Kokot


Bahan-bahan:
  • 125 gr kacang hijau, rendam beberapa jam tidak usah sampai semalam
  • 2 potong kaki sapi
  • 1/2 kg buntut sapi atau iga sapi
  • 2 ruas jahe, geprek
  • 1 batang kayu manis
  • 4 butir cengkeh
  • 2 liter air

Bumbu yang dihaluskan:
  • 4 siung bawang putih
  • 6 siung bawang merah
  • 1/4 sdt pala
  • 1/2 sdt merica
  • 1 sdt garam
  • 1 kaldu blok sapi

Cara Membuat:
  • Didihkan air, masukkan kaki sapi, buntut sapi, jahe, kayu manis, dan cengkeh. Rebus sampai empuk. Jika ingin lebih cepat, bisa menggunakan panci presto.
  • Rebus kacang hijau sampai mekar, sisihkan.
  • Tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan ke dalam rebusan kaki dan buntut sapi, aduk rata. Masukkan kacang hijau rebus, masak sampai kaldu mendidih. Matikan api.
  • Sajikan Kaldu Kokot bersama potongan daun bawang dan seledri, bawang goreng, lontong atau ketupat, dan sambal bawang.

Selamat mencoba!



Tuesday, 4 October 2016

Resep Poached Pear in Grape Juice

Hai,


Kali ini aku mau share resep yang sebenarnya sudah lama sekali aku upload di instagram karena kepentingan lomba, haha. Yang mau aku share kali ini yaitu resep Poached Pear in Grape Juice, bahasa sederhananya pear rebus, atau bahasa orang jaman dulu setup pear.



Poached pear juga menggunakan rempah-rempah seperti setup buah, hanya saja ini versi fancy-nya. Biasanya poached pear direbus denga white wine atau red wine, namun karena wine harganya mahal dan gak semua bisa mengkonsumsi wine, jadi aku ganti wine dengan jus anggur. Selain karena saat itu harus menggunakan produk dari buavita, penggunaan jus anggur ini bisa menciptakan efek red wine pada poached pear. Walaupun rasanya berbeda.


Poached Pear in Grape Juice

Bahan-bahan:
  • 2 buah pear; kupas, potong menjadi 2
  • 700 ml jus anggur
  • 1 batang kayu manis
  • 3 butir cengkeh
  • 1/2 buah kulit lemon
  • 1 ruas jahe, iris tipis
  • 2 sdm madu
Cara Membuat:
  • Masukkan semua bahan ke dalam panci, rebus selama 15 sampai 20 menit. Jangan lupa sesekali dibalik agar matang merata.
  • Angkat pear, sisihkan. Rebus kembali jus sampai mengental seperti sirup.
  • Sajikan Poached Pear dengan sirup anggur, beri ice cream vanilla, whipped cream, atau yogurt kental sesuai selera. Boleh juga ditambahkan granola atau pun kacang panggang kesukaan.

Selamat mencoba!

Thursday, 22 September 2016

Nasi Kebuli Kambing

Idul Adha sudah lewat tapi euphoria perdagingan masih terasa nih di rumah, masih ada daging kambing yang disisihkan untuk dibuat nasi kebuli kambing. Menu ini wajib ada tiap setelah hari raya qurban; selain sate, bakso, dan rendang. Sebenarnya yang mewajibkan sih cuma papa, haha..

Resep ini pernah aku share di Instagram-ku, tapi belum pernah aku share di blog karena waktu itu malas sekali nulis blog. Nah mumpung aku ingat, aku share nih resep nasi kebuli kambing yang aku pakai bebrapa tahun ini dan sejauh ini selalu berhasil. Untuk yang enggak suka kambing, bisa loh diganti daging sapi atau pun ayam kampung.


Resep Nasi Kebuli


Bahan-bahan:
  • 350 gr daging kambing, potong dadu
  • 1/2 buah bawang bombay ukuran besar, iris tipis
  • 2 batang kayu manis
  • 5 butir cengkeh
  • 5 butir kapulaga
  • 3 batang sereh, geprek
  • 2 sdm minyak samin untuk menumis (bisa diganti margarine)
  • 500 gr beras basmati (atau beras reguler)
  • 1/4 cup kismis, bila suka
  • 1 liter kaldu daging (atau 1 liter air ditambah 1 kaldu blok)
  • 225 ml susu
Bumbu Halus:
  • 3 siung bawang putih
  • 6 siung bawang merah
  • 2 ruas jahe
  • 1/2 sdt merica hitam
  • 2 sdt jintan sangrai
  • 1 sdt biji ketumbar
  • 1/4 butir pala
  • 1 sdm garam
Cara membuat:
  • Panaskan minyak, goreng daging kambing sampai kecoklatan. Angkat, sisihkan.
  • Diwajan yang sama, panaskan minyak samin. Tumis bawang bombay sampai layu, masukkan bumbu halus, cengkih, kayu manis, bunga lawang, kapulaga dan batang sereh. Tumis sampai harum. Masukkan beras dan daging kambing, aduk rata.
  • Tuang air dan susu, lalu masukkan kaldu blok dan kismis. Aduk rata. Didihkan dengan api sedang, jika air sudah tinggal sedikit, kecilkan api. Masak sampai air sudah terserap beras.
  • Kukus nasi selama 20 menit atau sampai tanak.
  • Sajikan dengan taburan bawang goreng, emping dan acar mentimun.

Untuk lebih praktisnya, bisa juga dimasak dengan rice cooker, namun jangan lupa bumbu ditumis terlebih dahulu supaya wangi. Dan kalau takut daging alot, bisa gunakan Cara Mengempukkan Daging dengan Cepat dan Mudah yang sudah aku tulis di post sebelumnya.

Semoga bermanfaat, selamat mencoba!

Wednesday, 7 September 2016

Daging Empuk Dengan Cepat Dan Mudah

Suka kesel gak sih kalau memasak daging ternyata hasilnya mengecewakan gara-gara daging alot, padahal bumbunya sudah enak banget. Daging mahal, eh setelah dimasak malah alot. Dibuang sayang, dimakan kok digigit aja gak bisa. Eits, kali ini aku akan membahas beberapa cara mengempukkan daging dengan cepat dan mudah, mumpung sebentar lagi Idul Adha kan?!

Berikut beberapa cara untuk mengempukkan daging dengan cepat dan mudah:

  • Dibungkus Dengan Daun Pepaya
Aku ingat pelajaran Biologi waktu aku SMA, dalam daun pepaya terdapat enzim yang dapat memecah serat daging sehingga daging bisa lebih empuk ketika dimasak, enzim papain namanya. Bungkus daging dengan daun pepaya, diamkan selama kurang lebih 15 menit, lalu masak daging seperti biasa.

  • Diolesi Dengan Kulit Pepaya
Seperti daun pepaya, kulit buah pepaya juga memiliki enzim papain yang memiliki fungsi sama dengan daun pepaya. Caranya olesi daging dengan kulit buah pepaya, diamkan selama kurang llebih 15 menit, lalu masak seperti biasa. Gunakan pepaya yang masih mengkel ya.

  • Juice Nanas atau Kiwi
Kalau cara ini pasti kalian sudah tidak asing kan? Yap, kedua buah ini memiliki enzim yang dapat memecah protein sehingga dapat mengempukkan daging dengan cara alami. Caranya lumuri daging dengan juice nanas atau kiwi, diamkan selama 10 menit, bersihkan daging dari juice buah tadi, lalu masak seperti biasa. Namun jangan terlalu lama ya karena selain mempengaruhi rasa, daging nanti akan terlalu empuk.

  • Memasak Dengan Presto
Aku beri apresiasi tinggi untuk pencipta panci presto, you are genius! Panci presto adalah alat perdapuran yang menurutku wajib dimiliki. Panci presto dapat memudahkan kamu untuk memasak, termasuk mengempukkan daging dengan cepat tanpa berjam-jam merebusnya.

  • Menggunakan Meat Tenderizer Tool
Alat ini memiliki ragam bentuk, ada yang seperti palu ber-spike, berbentuk bulat dengan jarum-jarum di bagian dasarnya. Alat ini akan mengoyak serat-serat yang ada pada daging sehingga daging bisa empuk. Pukul-pukul daging yang sudah dipotong setebal kurang lebih 1,5 senti dengan meat tenderizer tool secara merata. Tetapi jangan terlalu keras ya memukulnya, taktnya juice yanga ada di daging banyak keluar yang menyebabkan daging terasa kurang juicy setelah dimasak.

  • Dimarinasi Dengan Bumbu
Marinate, marinasi, atau merendam dengan bumbu selama waktu tertentu dapat membantu daging empuk dan juga bumbu dapat meresap sampai ke dalam daging secara sempurna. Caranya daging yang sudah dipotong direndam ke dalam bumbu selama 15 menit atau semalaman, baru olah daging sesuai keinginan.

  • Meat Tenderizer Powder
Cara terakhir ini termasuk cara yang, yah kurang baik jika terlalu sering dilakukan. Meat tenderizer powder atau bubuk pengempuk daging merupakan bubuk yg dapat mengempukkan daging dengan mudah dan tidak mengubah rasa daging. Bubuk pengempuk daging ini dapat dijumpai di swalayan maupun pasar. Nah kenapa aku bilang kurang baik jika terlalu sering digunakan? Karena bukan cara alami, bubuk ini mengandung senyawa kimia yang tidak baik jika dikonsumsi terus menerus, yah seperti bumbu penyedap.

Nah demikian cara-cara mengempukkan daging, semoga bermanfaat!

Sunday, 4 September 2016

Resep Talam Ayam Lada Hitam

Gurih. Bikin nagih.

Talam adalah jajanan yang sering kita temui di pasar tradisional atau pun di toko yang menjajakan aneka snack. Talam memang jajanan yang identik dengan rasa manis dan sedikit gurih, seperti talam pandan atau beberapa kalangan menyebutnya dengan kue ijo, talam ubi, talam labu, dan lain sebagainya. Namun gak banyak orang tahu kalau kue talam juga ada dalam versi asin, contohnya kue talam ebi, kue talam dengan taburan ebi sangrai berbumbu.

Dulu disela-sela waktu liburan ujian SMA, aku pernah membuat talam asin buat cemilan mama di kantor, tapi karena waktu itu lupa beli ebi (atau mengandalkan "di rumah ada kayaknya") aku membuat talam asin versi aku sendiri. Waktu itu aku sedang suka-sukanya masak masakan menggunakan lada hitam, aku memutuskan untuk membuat kue talam asin dengan ayam lada hitam.

Surprisingly, enak! Kata mama banyak teman kantor yang suka dan ketagihan, sampai-sampai mama cuma makan satu aja, haha..

Kemarin aku bikin lagi karena antara keinget dan kangen pengen share resep lagi di blog. So, here it is..


Resep Talam Ayam Lada Hitam




Bahan I:
  • 50 gr tepung beras
  • 25 gr tepung sagu
  • 1/2 sdm gula pasir
  • 1/4 sdt garam
  • 300 ml santan hangat (dari 1/2 butir kelapa)
  • minyak goreng untuk olesan

Bahan II (campur rata):
  • 125 ml santan (dari 1/2 butir kelapa)
  • 2 sdm tepung beras
  • 1/4 sdt garam

Bahan Isian:
  • 150 gr daging ayam cincang
  • 75 gr jamur merang, cincang kasar
  • 2 butir bawang putih, cincang halus
  • 1/2 butir bawang bombay, cincang halus
  • 1 sdt saos tiram
  • 2 sdm kecap manis
  • 1/2 sdt lada hitam
  • 1 sdt minyak wijen
  • 1 sdm potongan daun bawang
  • gula dan garam
  • minyak untuk menumis



Cara Membuat:
  • Buat isian terlebih dahulu. Tumis bawang putih sampai harum, lalu masukkan bawang bombay. Masak sampai bawang bombay layu.
  • Masukkan jamur, tumis sebentar. Masukkan daging ayam cincang, aduk sampai daging ayam matang, masukkan saos tiram, kecap manis, dan lada hitam. Aduk rata. Jika dirasa kering, bisa tambahkan air sedikit.
  • Beri gula dan garam sesuai selera (aku pakai 1/4 sdt gula dan 1/2 sdt garam), aduk rata. Matikan api.
  • Masukkan minyak wijen dan daun bawang, aduk rata. Sisihkan.
  • Panaskan kukusan. Campur semua Bahan I kecuali minyak goreng hingga rata. Olesi cetakan dengan minyak goreng tipis-tipis. Tuang adonan I ke cetakan, kukus selama 10 menit.
  • Masukkan adonan 2 kurang lebih 1 sendok makan ke cetakan. Kukus kembali selama 10 menit.
  • Angat, beri talam dengan isian ayam lada hitam. Sajikan.

Terlihat rumit? Enggak sama sekali kok, mudah sekali membuatnya. Satu resep ini bisa untuk 12 kue talam untuk ukuran cetakan besar dan 25 kue talam untuk cetakan ukuran kecil. Ketika mengukus, jangan lupa tutup kukusan ditutup dengan kain serbet bersih ya, supaya uap air tidak menetes ke adonan. Gunakan api sedang saja untuk menghindari hasil kue talam pecah.

Semoga berhasil :)

Friday, 5 August 2016

My Acne Journal : Minggu ke-2

Holla..

Wah sudah 2 minggu aja masa pengobatan jerawatku dengan dr. Widodo. Gimana hasilnya selama 2 minggu ini?

Jadi seperti yang aku ceritakan di blogku sebelumnya, selama kurang lebih 4 bulan aku punya jerawat meradang yang gak sembuh-sembuh. Lalu aku putuskan untuk berobat ke dokter Widodo. Selama post ini ditulis, masa pengobatanku sudah menginjak 2 minggu 1 hari. Alhamdulllah jerawat meradangku sudah mereda dan jarang sekali gatal-gatal kalau kena panas atau kotor.

Sebenarnya usahaku selama 2 minggu ini kurang maksimal karena ada pantangan-pantangan yang aku langgar. Pertama, dokter menganjurkan aku untuk tidur lebih dari 8 jam setiap harinya. Selama pengobatan aku sibuk dengan banyak hal, termasuk pra dan pasca pindahan warung. Selama 2 minggu ini hampir gak pernah aku tidur selama 8 jam, paling lama hanya 7 jam. Kedua, aku dilarang pakai penutup mulut atau masker ketika naik motor. Tahu kan jalanan itu bau, dan kadang tanpa sengaja ada asap knalpot atau pun asap rokok namplok di muka kita? Yap beberapa kali aku langgar, dan yak jerawat pun keluar lagi. Untungnya obat totol jerawatnya ampuh, totol semalam jerawat langsung kempes. Ketiga, gak boleh pencet jerawat. Pencet jerawat memang haram hukumnya, tapi tanganku gemes banget buat pencetin, hehe.
Setelah 2 minggu pengobatan; still without wearing powder, concealer, bb cream..just wearing
eye make up and lipstick ;)


So far, jerawatku gak meradang lagi kayak sebelum berobat dengan dr. Widodo, tap bukan berarti jerawat gak muncul lagi ya. Jerawat masih keluar kecil-kecil tapi gak berubah jadi besar-besar lagi. Sekarang PRnya sih tinggal bekas jerawatnya, karena kulitku putih jadi kelihatan banget bekasnya :(

Oh ya selama 2 minggu aku jarang banget bakai bedak, mungkin cuma 2 kali dan itu saja karena kondangan. Kalau kalian bilang "kok gak ada perubahan?", ada banget kok sebenernya. Dibanding dengan perawatan-perawatan kulitku sebelumnya (perawatan kulit berjerawat), dr. Widodo ini lebih yahud sih. Masih ingat kan dr Widodo menganjurkan aku untuk pakai sabun Lux putih bantangan untuk facial-wash ku di sore hari? Surprisingly it works! Selama 2 minggu ini gak ada breakout gara-gara pakai sabun batangan Lux ini, gak ada rasa gatel, kering atau ketarik-tarik, berasa bersih aja. 

Setelah minggu ke-2 aku memutuskan untuk kembali ke skin care-ku yang dulu, skin care regime sebelum jerawat meradang. Kenapa gak ke dokter Widodo lagi? Karena sebenarnya ini termasuk anjuran dokter Widodo, beliau menganjurkan untuk balik ke dokter estetika aku yang dulu kalau jerawat sudah tidak meradang. Selain itu aku juga udah gak sabar sih untuk balik ke my first skin care regime, hehe..

Buat kalian yang sedang jerawatan meradang, aku sarankan untuk berobat ke dokter spesialis kulit karena mereka lah pakarnya. Jerawat itu banyak faktornya, gak cuma karena salah kosmetik atau setres saja, bisa juga dari makanan. Dan jangan banyak-banyak ngaca karena nanti jadi setres, gemes pengen pencet-pencet jerawat, terus jerawat jadi gak sembuh-sembuh deh. Jadi kudu sabaaaar :)

Sekian update aku kali ini, mungkin setelah ini aku akan balik lagi ke topik resep-resepan karena aku kangen banget bisa berbagi resep di blog. 

Semoga bermanfaat buat kalian, see you at next post!



P.S : blog ini ditulis setelah 2 minggu pengobatan, karena draft lupa belum dipublikasikan jadilah post ini dipublikasikan seminggu kemudian.

Monday, 18 July 2016

My Acne Journal: Berobat di dr Yohanes Widodo, SpKK

Hai..

Melanjutkan post selanjutnya, di post ini aku akan sharing pengalamanku berobat di dokter Widodo sedetail mungkin. Siapa tahu bermanfaat buat kalian yang ingin berobat dengan beliau.

Dokter Widodo ini adalah salah satu dokter kulit senior dan sudah terkenal dari dulu, bahkan dari jaman mama muda dulu. Setahu aku beliau praktek di RS Sardjito, RS Panti Rapih dan membuka tempat praktik di Apotek Panji yang beralamat Jalan Kolonel Sugiyono, dekat Museum Perjuangan, kanan jalan kalau dari arah jalan Taman Siswa.

Aku sendiri memilih datang untuk ke tempat prakteknya yang berada di Apotek Panji. Berbekal nekat, untuk pertama kalinya aku kesana jam 3 sore. Sampai disana ternyata nomor antrian sudah penuh, setiap harinya beliau hanya melayani 32 pasien saja dengan jam praktek pukul 19.30-selesai. Mbak penjaga bilang aku harus datang lagi keesokan paginya pukul setengah delapan karena pendaftaran dibuka pukul delapan pagi.

Keesokan paginya aku sampai di TKP setengah 8 tepat dan sudah baaanyak sekali pasien yang mengantri. Sampai jam 8 tepat, folding gate dibuka lalu aku buru-buru ikut masuk ke apotek. Tiba-tiba seorang ibu-ibu tanya ke aku "Mbak baru sekali datang ya? Udah daftar ke masnya?" sambil menunjuk ke bapak-bapak baju hitam. "Belum bu, harus ke bapaknya dulu ya?". "Harus mbak, soalnya sebelum dicatet ke buku pendaftaran mbak harus tulis nama ke masnya dulu..". Jegleerrr, jadi aku nungguin lama-lama ternyata sia-sia sudah. Hiks..

Foto sehari sebelum berobat di dokter Widodo, serem ya :(


Untuk kedatangan yang ketiga aku bertekad untuk berangkat lebih pagi, setelah sholat subuh langsung ke dokter Widodo pokoknya. Tapiii kenyataannya setelah sholat subuh aku malah gelundungan di kamar, cek stock warung yang habis, cek email, dusel mama, dan gak kerasa sudah jam 6! Tanpa pikir panjang (dan gak mandi, hehe) aku langsung berangkat, untung hanya 10-15 menit perjalanan dari rumah. Sesampainya disana ternyata baru ada satu orang dan bapak pencatat calon pasien. Ciri-ciri bapak ini rambutnya gondrong, dicepol, pakai jaket jeans, dan bawa-bawa pulpen kertas untuk mencatat calon-calon pasien. Kalau bingung, bisa tanya ke tukang parkir. Kalau ditanya bisa gak titip nomor antrian ke bapaknya? Hmmm aku kurang tahu kalau untuk itu. Sebenarnya pendaftaran bisa via telepon, tapi kamu harus berkali-kali supaya telepon bisa diangkat dan dicatat namanya..itu pun kalau beruntung karena saking banyaknya.

Saat aku mencatatkan namaku, aku mendapatkan nomor urut 10. Setelah aku lihat lagi ternyata nomor urut 1-7 disisihkan untuk pasien balita dan lansia. Walaupun nomor urutku 10, belum tentu nomor urut tersebut adalah nomor periksaku karena aku harus menunggu sampai pukul 8 untuk menuliskan namaku di buku pendaftaran. Sebetulnya setelah menuliskan nama ke bapak tersebut, kita bisa kok tinggal sebentar lalu datang lagi jam setengah 8. Tetapi aku memilih untuk tunggu saja. Ribet? Eits gak boleh manja ya, demi loh demi kulit sembuh dan kembali mulus. Akhirnya jam 8 tepat folding gate Apotek dibuka dan bapak tadi langsung ke depan untuk ambil buku daftar pasien. Nama pasien dipanggil satu persatu untuk menuliskan namanya lagi ke buku tersebut. Alhamdulillah dapat nomor antrian juga dengan nomor urut 11. Menurut bapak tukang parkir aku harus datang pukul 8 malam. Baiklah!

Nah malamnya aku datang pukul 8 kurang dan ternyata dokter belum juga datang. Kata ibu yang menjaga buku pendaftaran nomor antrianku bakal dipanggil sekitar pukul 9. Yasudah aku melipir dulu beli buah sebentar sambil mengulur waktu. Aku datang lagi pukul setengah 9 kurang dan antrian baru jalan 2 nomor. Kalau kata salah satu pasien nomor akan dipanggil secara selang seling dengan pasien anak dan lansia. Sounds unfair but it makes sense, yakali kan anak kecil atau lansia berobat jam 11 keatas..kasian toh? FYI, pasien disini beragam umur dan keluhan mengenai kulit; bukan hanya pasien yang berjerawat saja.

Namaku baru dipanggil pukul 10, sambil menahan ngantuk aku masuk ke ruang praktek. "Gimana nduk, apa keluhannya?", tanya beliau. Aku ceritakan keluhanku, berapa lama aku berjerawat, produk apa saja yang dipakai selama ini. Lalu beliau mengambil senter besar (beneran besar!) sambil mengecek kondisi kulit wajahku. Beliau manggut-manggut lalu menuliskan point-point riwayat jerawatku.


Beliau bilang aku harus menghentikan pemakaian toner, pelembab, milk cleanser, dan bedak padatku, facial washku masih boleh dipakai pagi hari tetapi sore hari atau setelah beraktivitas aku dianjurkan untuk menggunakan sabun batangan Lux putih. Yap, sabun mandi batangan Lux putih. Aku enggak sempat bertanya kenapa harus sabun Lux, tetapi kalau aku lihat ingredient sabun Lux batangan ini memang gak terlalu banyak dan seaneh sabun-sabun kebanyakan. 


Selain itu, beliau menyarankan aku untuk setiap sore keramas, tidur lebih dari 8 jam, enggak ada pantangan makanan, kalau naik motor tidak boleh pakai masker, helm harus dicuci, kaca helm sebaiknya diganti kalau sudah baret. Kenapa harus ganti kaca helm? Supaya penglihatan bening dan kaca tidak dinaikkan ketika berkendara. Intinya sih gak boleh buka kaca helm supaya debu-debu tidak menempel ke muka.


Kata beliau jerawat meradang ini akibat salah perawatan (chemical peeling), skincare yang terdahulu dan agak terlambat ditangani oleh ahlinya. Hiks, kali ini aku manut dok..kalau ada apa-apa aku langsung ke dokter kok :"(


Beliau memberikan resep berupa krim totol jerawat dipakai sebelum tidur dan obat antibiotik untuk 6 hari yang harus diminum sehari sekali setelah makan. Total biaya yang aku keluarkan yaitu Rp 323.000,- dengan rincian Rp 100.000,- untuk biaya pendaftaran dan konsultasi dan Rp 123.000,- untuk krim totol jerawat dan obat antibiotik Minocycline 100 mg. Jauh lebih murah dibandingkan perawatan jerawat sebelumnya..sebal!


Saat blog ini di tulis, pengobatan sudah berjalan 5 hari. Awalnya aku agak ragu dengan sabun Lux batangan, namun ternyata enggak bikin kering atau breakout loh. Dan selama 5 hari ini alhamdulillah ada perkembangan, walaupun belum jerawat belum hilang sepenuhnya tetapi satu persatu jerawat mulai kempes bahkan hilang. Setelah 2 minggu nanti aku akan update perkembangannya, semoga sudah bebas dari jerawat dan peernya tinggal menghilangkan noda jerawat.


Yang sudah pernah berobat di dokter Widodo share cerita kalian di comment ya. Semoga post kali ini membantu kalian yang ingin berobat dengan dokter Widodo. Sampai bertemu di post selanjutnya!

SEMANGAT!




P.S: PERHATIAN, aku tidak menyarankan kalian untuk menggunakan produk-produk yang aku gunakan tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter karena kondisi kulit setiap orang berbeda-beda. 

My Acne Journal : Awal Berjerawat

Holla..

Untuk post kali ini bukan mengenai resep atau kuliner seperti biasa, kali ini aku mau berbagi pengalamanku berobad di dokter spesialis kulit yang tersohor di Jogja, dr. Yohanes Widodo, Sp.KK. Sebelum bercerita tentang pengalamanku berobat dengan beliau, aku akan cerita dulu bagaimana aku bisa berjerawat dan langkah apa saja yang sudah aku coba sebelum ke dokter Widodo. Sebelumnya aku minta maaf untuk post ini tidak mencantumkan foto kondisi kulitku sebelum berobat ke dokter Widodo karena selama berjerawat aku tidak pernah selfie karena tidak pede, even memakai camera 360.

Pada dasarnya kulit mukaku jarang sekali berjerawat, mungkin sesekali sebelum menstruasi, stress, atau setelah pakai heavy make up tapi lupa gak triple cleansing; itu pun hanya ada satu atau dua jerawat yang keluar. Nah tepatnya awal tahun lalu aku ke Jakarta dan baru ingat kalau skin care aku habis semua, akhirnya sampai di apartemen aku membeli sabun muka sembarang di Century. Kalau tanya merk apa, pokoknya merk untuk remaja deh. Baru dua kali pemakaian ternyata gak cocok buat mukaku, mukaku langsung gatal dan keluar jerawat kecil-kecil dan banyak. Sesampai di jogja aku gak langsung ke dokter estetika langgananku, aku malah meneruskan sabun muka yg aku beli di jakarta dengan merk berbeda. Dan aku baru ke dokter langgananku seminggu kemudian. Haa!

Di dokter langgananku ini aku disarankan untuk chemical peeling, aku sih pasrah aja yang penting jerawatku hilang deh. Padahal aku sebenarnya anti loh yang namanya chemical peeling karena kulitku termasuk sensitif, tapi kan ini saran dari ahlinya toh. Selain peeling, aku juga harus mengganti hampir semua produk. Hiks..

Setelah peeling memang muka berasa lebih halus, tapi jerawat masih ada. Beberapa hari setelah peeling jerawat mulai keluar lagi dan lumayan besar-besar, bahkan butiran scrub yang ada di facial wash-ku bisa nyangkut-nyangkut di pori-pori. Oke, akhirnya aku kembali ke dokter langgananku untuk menanyakan kondisi mukaku. Dokter kembali mengganti krim pagiku dan facial wash, lalu menambahkan obat totol jerawat di prescription-ku. Singkat cerita selama pemakaian kulit mukaku jadi kering banget, beberapa spot seperti pipi dan dagu mengelupas, dan sudut bibir rasanya perih banget. Aku merasa ada yang gak beres dengan krim kali ini jadi aku stop pemakaian krim dan aku masih pakai facial washnya karena masih cocok di mukaku.

Aku coba searching produk yang bagus untuk kulit berjerawat, tanya sana-sini, buka youtube, dan akhirnya aku bertemu dengan produk Tea Tree product dari The Body Shop karena banyak sekali yang cocok dengan produk ini dan ampuh untuk menghilangkan jerawat. Produk TBS yang aku pakai facial wash, toner, facial scrub, dan clay mask tea tree, dan seaweed moisturizer. Lainnya sih aku pakai Laneige Water Bank Essence (sudah lama aku pakai) dan acne lotion dari Larissa. Jerawat sih sudah agak sopan, gak sebanyak sebelumnya, tapi masih muncul hilang kayak harapan mantan (loh?!). Kadang masih terasa gatal kalau terkena sinar matahari terlalu lama, even di mobil. Sempat aku nangis-nangis minta pulang karena mukaku merah dan gatal-gatal karena waktu itu sinar matahari di Jogja sedang terik-teriknya. Yap, se-enggak enak itu kalau punya kulit sensitif dan berjerawat.

Aku masih mencoba bertahan sampai akhirnya menjelang Lebaran kemarin aku ke pasar dekat rumah dan penjual-penjual langgananku bilang, "kok jerawatan mbak sekarang?". Tidak sampai di situ saja, di acara bukber SMA aku juga mendapatkan komentar yang sama. Pokoknya pertanyaan tentang jerawatku ini sering banget aku dapat sampai saat ini. Karena aku merasa gak tahan dan keperecayaandiriku makin hilang, akhirnya aku memutuskan untuk wajib berobat ke dokter kulit.

Sahabatku, Gilang, adalah salah satu orang yang sering aku tanya-tanyai mengenai jerawat. Dia mengusulkan aku untuk ke dokter kulit Etnawati yang berhasil menyembuhkan kulit berjerawatnya. Kata Gilang, aku harus datang jam setengah tujuh pagi untuk ambil nomor antrian dan nomor antrian baru bisa diambil jam 9 pagi. FYI, tempat praktek dokter Etna berada di jalan Bumijo. Oh ya, sebelumnya aku berencana untuk ke dokter Kun yang katanya pakarnya kulit berjerawat di Jakarta pada bulan Agustus, tetapi aku sudah tidak sabar pengen cepat-cepat sembuh dari jerawat yah aku urungkan niat untuk ke dokter Kun.

Sebelum aku ke dokter Etna, aku sempatkan untuk browsing dokter-dokter spesialis kulit yang recomended di Jogja. Lalu mataku tertuju ke dokter Yohanes Widodo, dokter kulit senior yang sudah terkenal dari dulu. Tanpa pikir panjang aku langsung ke tempat praktek dokter Widodo. Entah kenapa waktu itu aku mantap sekali untuk berobat kesana dibandingkan ke dokter Etna. Apakah ini jodoh? *tsaah

Nah begitu cerita pengalamanku tentang jerawat, saat post ini ditulis aku sudah 4 hari berobat di dokter Widodo dan sejauh ini sudah terlihat perubahannya. Untuk post selanjutnya aku akan berbagi pengalamanku bisa berobat dengan beliau dan berapa biaya yang aku keluarkan.


See you on my next post!


Thursday, 2 June 2016

Resep Belgian Waffle Part. 1 (Brussels Waffle)

Sebelumnya aku mau minta maaf karena seharusnya update blog sebulanan yang lalu untuk sharing resep Belgian Waffle malah aku undur terus. Banyak hal yang harus dikerjakan sampai susah untuk curi-curi waktu ngeblog, buka aja jarang sekali. Rencana sih mau update waktu long weekend, tapi karena long weekend penuh dengan kondangan dan setelah long weekend aku masih banyak printilan-printilan yang harus dikerjakan, terpaksa deh diundur. Hmmm..

Nah mumpung minggu ini gak terlalu padat waktunya, aku sempetin nih untuk update blog. Sesuai dengan janjiku di blog sebelumnya, aku mau sharing resep Brussels Waffle aka Belgian Waffle. Sebeleumnya aku sudah membahas tentang Waffle dan jenis-jenisnya, kalau belum baca bisa klik disini.

Resep ini aku contek dari Allrecipe.com tetapi aku modifikasi lagi agar lebih mudah untuk dipraktikkan dan gak perlu banyak-banyak membuatnya. Resep ini bisa untuk 4-5 porsi, tapi tergantung dari perut masing-masing sih, hehe.


Resep Belgian Waffle







































Bahan-bahan:
  • 4 gr ragi instan
  • 350 ml susu hangat
  • 50 gr gula pasir
  • 85 gr butter atau margarine
  • 2 butir telur, pisahkan kuning dan putihnya
  • 250 gr tepung terigu
  • 1/4 sdt vanila ekstra
  • sejumput garam


Cara Membuat:
  • Di dalam mangkuk kecil, campurkan ragi instan dengan 50 ml susu hangat. Diamkan selama 5 menit, sisihkan.
  • Di mangkuk yang berbeda, tuang sisa susu hangat, masukkan gula dan butter, aduk sampai gula larut dan butter meleleh. Masukkan larutan ragi, kuning telur, vanila ekstra, garam, dan tepung terigu, aduk sampai tercampur rata. Diamkan  selama 30 menit hingga adonan mengembang dua kali lipat.
  • Kocok putih telur sampai stiff peak atau mengembang sempurna dan jika mangkuk dibalik kocokan putih telur tidak jatuh. Campur kocok 
  • Panaskan cetakan waffle, tuang adonan sampai hampir memenuhi cetakan. Tutup cetakan, panggang sampai berhenti mengeluarkan uap air dan kedua sisi sudah kecoklatan.
  • Angkat, sajikan dengan topping kesukaan.



Nah tips dari aku supaya waffle tidak mudah soggy alias melempem, setelah waffle matang taruh diatas cooling rack atau bisa juga menggunakan rak oven yang ditaruh diatas loyang. Hal ini bertujuan agar uap air keluar dan tidak kembali ke waffle sehingga waffle akan tetap renyah. Dan adonan sisa bisa disimpan di kulkas loh. Caranya aduk adonan, taruh ditoples, lalu tutup rapat, dan simpan di kulkas. Suhu dingin kulkas akan membuat ragi yang ada di adonan "tertidur", dan cara "membangunkan" hanya taruh di suhu ruang, lalu panggang.


Untuk pendamping waffle sih bebas; boleh selai, gula bubuk, madu, maple syrup, saus coklat, atau pun buah-buahan kesukaanmu. Atau bisa dengan banana brule dan madu seperti yang aku buat ini, bikinnya mudah banget. Pisang dibelah menjadi dua, taburi dengan gula pasir, lalu bakar dengan blow torch. Kalau tidak punya, bisa menggunakan api atas oven. Taruh pisang dirak paling atas, panggang sampai gula leleh dan berwarna kecoklatan. Jika sudah, taruh banana brule diatas waffle lalu beri sedikit madu dan sedikit kayu manis bubuk. Yummy!

Semoga kalian mempraktikkannya di rumah ya. Untuk selanjutnya aku akan share Liege Waffle, varian lain dari Belgian waffle. Aku janji akan meluangkan waktuku untuk update blog secepatnya, hehe..

Selamat mencoba!








Thursday, 10 March 2016

My Thought About Married

Hai..

Sebelumnya aku mau minta maaf karena sampai saat ini aku belum post resep Belgian Waffle karena belum sempat mempraktekkan resep. Bukan karena gak ada waktu, cuma selalu gak berjodoh. Saat aku ada waktu, bahan ada yang kurang. Dan sebalaiknya, saat bahan lengkap, ada aja yang harus dikerjakan (huft!). Tapi aku janji bakal post resep Belgian Waffle dan waffle-waffle lainnya.

Kali ini aku gak post resep seperti biasa, kali ini aku mau sedikit curhat. Ehemm..

Aku saat ini berumur hampir seperempat abad dan sudah beberapa tahun ini belum memiliki pasangan. Dua tahun lalu merupakan awal dimana banyak sekali kabar sudah lamaran, mau menikah, undangan pernikahan, bahkan undangan akikah. Kalau ditanya seberapa banyak, wah gak bisa dihitung deh ada berapa banyak!

Hal ini bikin aku dilema, "apa memang sudah waktunya?"

Seperti ditahun-tahun sebelumnya, diawal tahun 2015 kemarin aku menuliskan satu resolusi "found the one" dan "akhir tahun nikah!". Pokoknya, tahun 2015 nikah kayak teman-teman yang lain deh. Sumpah aku ngakak terus kalau baca resolusi ini, terkesan obsesi nikah banget!

Nah setelah bikin resolusi yang terkesan obsess itu, aku sempat dekat lagi dengan mantan yang sebenarnya sudah aku blacklist (cailaah). Yah, semua orang bisa berubah dan gak ada salahnya kan memberi kesempatan (kesekian kali)? Apalagi sudah bertahun-tahun enggak komunikasi, perubahan pasti ada. Yap, dia berubah secara fisik..lebih bersih dan lebih berisi. Tetapiiii, sifatnya sama sekali enggak berubah. Oke, akhirnya aku mundur pelan-pelan dan hapus semua kontaknya. Terkesan kekanak-kanakan memang, tetapi ini keputusan yang terbaik. Why? I won't explain it in here..

Lalu aku bertemu lagi dengan teman lama dan bikin baper (kekinian banget bahasanya, lol). Kami chat hanya setiap weekend saja karena dia bekerja di pelosok dan susah sekali untuk dapat sinyal. Setiap weekend dia selalu mengabari aku kalau dia dapat sinyal. Singkat cerita, dia kembali ke Jogja selama empat hari dan kami bertemu dua kali. Selama kami bertemu, kayaknya dia enggak ada etikat untuk serius. Bukan ngelamar juga sih, tetapi apa gitu yang bisa menunjukkan kalau dia serius. Rasanya kecewa banget, kecewanya bukan karena dia gak ada etikat serius. Tetapi karena sudah dipastikan dua resolusi 2015 sudah jelas enggak bisa terealisasi. Haha :))

Akhirnya aku berada dititik dimana aku sadar kalau menikah itu enggak mudah, menikah itu rumit, dan menikah itu enggak cuma berdasarkan sama-sama cinta. Menikah berbeda dengan pacaran, menikah itu perlu komitmen yang tinggi dan gak semudah pacaran yang dengan gampangnya putus-sambung. Memutuskan untuk menikah adalah keputusan yang besar dan luar biasa, karena kamu akan hidup bersama dengan pasangan, akan berbagi bitter-sweet life dengan pasangan, dan orangtua sudah lepas tanggung jawab atas kehidupanmu. Menikah merupakan awal kehidupan dengan keluarga baru, dengan kompleksitas yang baru, yang mungkin gak pernah ditemui sebelumnya. Yap, married is new chapter of your life!

Aku berikan apresiasi tertinggi untuk teman-teman yang memutuskan menikah muda, apa lagi untuk yang masih mengenyam pendidikan. Aku yakin keputusan mereka untuk menikah bukan atas dasar cinta saja, bukan karena menghalalkan hubungan semata, atau memiliki keturunan. Tetapi ada dorongan dari Tuhan, dimana dua insan sangat yakin untuk melangkahkan kehidupan mereka di lembaran yang sama. Kalau kata sahabatku, ada perasaan yang sangat mendorong dia untuk hidup bersama dengan pasangannya, bisa saling menerima masing-masing kelebihan maupun kekurangan, dan menerima seburuk-buruknya masa lalu pasangan. Kalau kalian tahu, suami sahabatku punya track record yang gak banget selama sekolah dan lucunya sahabatku sempat takut loh waktu suaminya PDKT. Getting married is magical and so much mystery!

Saat ini aku memutuskan untuk kembali ke komitmen awal dimana aku gak akan coba-coba untuk menaruh hati pada sembarang orang, aku hanya untuk orang yang benar-benar serius dan memang bisa menerima aku apa adanya, begitu juga sebaliknya. Resolusi di tahun 2016 ini aku harus menjadi pribadi yang lebih baik lagi, menjadi wanita yang mandiri, bisa mencintai diri sendiri apa adanya, dan  produktif. Found the one? Yap, after I can love my self and accept whoever I am. Getting married in this year? Hmm, I give it to Allah. I believe miracle will come true in right way and in right time.

"I'm not single, I'm not taken yet, I'm simply on reserve..for the one who deserve my heart"

Jadi tetap sabar dan selalu berusaha untuk memantaskan diri, kalau memang sudah pantas di mata Allah pasti akan segera dipertemukan dengan jodohnya. Semoga segera :)

Wednesday, 24 February 2016

AW Waffle atau Belgian Waffle?

Hai hai semua, berhubung banyak sekali yang membaca post aku tentang waffle dan beberapa bertanya tentang Belgian Waffle, kali ini aku akan membahas apa sih Belgian Waffle? Sama enggak sih dengan Waffle AW? So, here we go..


Gambar "A&W Waffle" diambil dari sini

Siapa sih yang gak tahu waffle? Jajanan satu ini sangat digemari oleh banyak orang, termasuk aku. Sekarang banyak sekali variasinya, dari yang manis sampai savoury. Waffle saat ini mudah sekali ditemui di cafe-cafe. Tetapi kalian merasa gak kalau setiap cafe punya waffle yang berbeda-beda teksturnya? Ada yang berat, ada yang garing, ada yang ringan, ada yg ringan banget, bahkan ada juga yang bantet (duh!). 





Gambar diambil dari sini

Belgian waffle disebut-sebut waffle terenak dan sangat populer di banyak negara, termasuk Indonesia. Nah, apakah kalian tahu kalau Belgian waffle justru tidak ada di Belgia? Di Belgia sendiri,  hanya ada dua macam waffle, Brussels Waffle dan Liege Waffle.


Gambar diambil dari sini

Pernah merasakan waffle yang yeasty, crispy, ringan, dan banyak rongga udaranya? Nah itu lah Brussels waffle. Di Belgia sendiri ada 2 cara untuk memakannya, dengan topping whipped crean dan irisan strawberry atau hanya dengan taburan gula bubuk saja. Tidak seperti kebanyakan waffle yang dimana toppingnya tumpeh-tumpeh (deuuh macam Jupe aja, haha). Salah satu temanku yang pernah berkunjung ke Belgia, beberapa Brussels waffle yang dia coba menggunakan beer supaya lebih ringan dan crispy; namun tradisionalnya hanya menggunakan ragi saja untuk mendapatkan tekstur yang airy dan crispy. Waffle ini lah yang sering disebut-sebut sebagai Belgian waffle.


Gambar diambil dari sini

Nah, berbeda halnya dengan Liege waffle. Jenis waffle ini lebih ringan dan dimakan tanpa topping apapun karena di luar waffle nya terdapat caramel gula. Adonannya pun berbeda dengan Brussels waffle yang kental seperti adonan waffle kebanyakan. Adonan Liege waffle seperti adonan brioche atau roti yang diberi bongkahan-bongkahan kecil gula, lalu dipanggang di cetakan waffle. Kebetulan aku pernah mencoba waffle jenis ini, bukan di Belgia sih, tetapi di salah satu cafe di Bangkok, Thailand; tepatnya di Siam Paragon (atau Discovery?). Aku memesan Liege Waffle karena katanya wafflenya enak dan paling murah (ekonomis ya boo, tetep!). Aku sempat melongo karena mereka hanya menyajikan satu buah waffle seukuran telapak tangan tanpa topping apapun; ya maklum ekspektasiku paling enggak ada topping whipped cream dan satu buah strawberry. Waktu aku coba, enak banget! Crispy, light, dan ada karamel disisi luar waffle. Sayangnya aku enggak foto penampakannya :(

Kalau Belgian Waffle bukan makanan authentic Belgia, kenapa dinamakan Belgian Waffle?

Nah ini berdasarkan wikipedia.com bahwa nama Belgian Waffle merupakan nama yang dibuat-buat oleh seorang chef berasal dari Amerika bernama Maurice Vermersch. Ia menggunakan resep Brussels waffle. Berhubung orang Amerika pada saat itu masih asing dengan nama "Brussels", maka Vermersch menamakannya dengan Belgium Waffle.

Jadi, apakah waffle AW dan Belgian Waffle itu berbeda? Yap, berbeda..banget!

Seperti yang kita tahu, AW adalah fast food yang berasal dari Amerika. Tagline-nya saja sudah jelas kan "All American Food", jadi waffle AW bukan Belgian waffle tetapi American waffle. Waffle ini lebih berat dibandingkan Belgian Waffle. American waffle lebih seperti pancake yang dicetak dengan cetakan waffle, yah karena memang adonannya sama sih.

Nah sekarang sudah tahu dong bedanya antara Belgian waffle dengan American waffle kan? Untuk post selanjutnya,  aku akan berbagi resep Belgian waffle dan American waffle. Untuk resep waffle yang sudah aku share sebelumnya bisa lihat disini. Untuk Liege waffle, nanti aku cari-cari resep yang oke dulu ya.

Semoga info ini bermanfaat!



Sumber data:
  • http://www.huffingtonpost.com/2015/02/02/belgian-waffles-history_n_6535434.html
  • https://liegewaffle.wordpress.com/liege-waffle-recipe-liege-gaufre-recette/