Sunday, 4 September 2016

Resep Talam Ayam Lada Hitam

Gurih. Bikin nagih.

Talam adalah jajanan yang sering kita temui di pasar tradisional atau pun di toko yang menjajakan aneka snack. Talam memang jajanan yang identik dengan rasa manis dan sedikit gurih, seperti talam pandan atau beberapa kalangan menyebutnya dengan kue ijo, talam ubi, talam labu, dan lain sebagainya. Namun gak banyak orang tahu kalau kue talam juga ada dalam versi asin, contohnya kue talam ebi, kue talam dengan taburan ebi sangrai berbumbu.

Dulu disela-sela waktu liburan ujian SMA, aku pernah membuat talam asin buat cemilan mama di kantor, tapi karena waktu itu lupa beli ebi (atau mengandalkan "di rumah ada kayaknya") aku membuat talam asin versi aku sendiri. Waktu itu aku sedang suka-sukanya masak masakan menggunakan lada hitam, aku memutuskan untuk membuat kue talam asin dengan ayam lada hitam.

Surprisingly, enak! Kata mama banyak teman kantor yang suka dan ketagihan, sampai-sampai mama cuma makan satu aja, haha..

Kemarin aku bikin lagi karena antara keinget dan kangen pengen share resep lagi di blog. So, here it is..


Resep Talam Ayam Lada Hitam




Bahan I:
  • 50 gr tepung beras
  • 25 gr tepung sagu
  • 1/2 sdm gula pasir
  • 1/4 sdt garam
  • 300 ml santan hangat (dari 1/2 butir kelapa)
  • minyak goreng untuk olesan

Bahan II (campur rata):
  • 125 ml santan (dari 1/2 butir kelapa)
  • 2 sdm tepung beras
  • 1/4 sdt garam

Bahan Isian:
  • 150 gr daging ayam cincang
  • 75 gr jamur merang, cincang kasar
  • 2 butir bawang putih, cincang halus
  • 1/2 butir bawang bombay, cincang halus
  • 1 sdt saos tiram
  • 2 sdm kecap manis
  • 1/2 sdt lada hitam
  • 1 sdt minyak wijen
  • 1 sdm potongan daun bawang
  • gula dan garam
  • minyak untuk menumis



Cara Membuat:
  • Buat isian terlebih dahulu. Tumis bawang putih sampai harum, lalu masukkan bawang bombay. Masak sampai bawang bombay layu.
  • Masukkan jamur, tumis sebentar. Masukkan daging ayam cincang, aduk sampai daging ayam matang, masukkan saos tiram, kecap manis, dan lada hitam. Aduk rata. Jika dirasa kering, bisa tambahkan air sedikit.
  • Beri gula dan garam sesuai selera (aku pakai 1/4 sdt gula dan 1/2 sdt garam), aduk rata. Matikan api.
  • Masukkan minyak wijen dan daun bawang, aduk rata. Sisihkan.
  • Panaskan kukusan. Campur semua Bahan I kecuali minyak goreng hingga rata. Olesi cetakan dengan minyak goreng tipis-tipis. Tuang adonan I ke cetakan, kukus selama 10 menit.
  • Masukkan adonan 2 kurang lebih 1 sendok makan ke cetakan. Kukus kembali selama 10 menit.
  • Angat, beri talam dengan isian ayam lada hitam. Sajikan.

Terlihat rumit? Enggak sama sekali kok, mudah sekali membuatnya. Satu resep ini bisa untuk 12 kue talam untuk ukuran cetakan besar dan 25 kue talam untuk cetakan ukuran kecil. Ketika mengukus, jangan lupa tutup kukusan ditutup dengan kain serbet bersih ya, supaya uap air tidak menetes ke adonan. Gunakan api sedang saja untuk menghindari hasil kue talam pecah.

Semoga berhasil :)

Friday, 5 August 2016

My Acne Journal : Minggu ke-2

Holla..

Wah sudah 2 minggu aja masa pengobatan jerawatku dengan dr. Widodo. Gimana hasilnya selama 2 minggu ini?

Jadi seperti yang aku ceritakan di blogku sebelumnya, selama kurang lebih 4 bulan aku punya jerawat meradang yang gak sembuh-sembuh. Lalu aku putuskan untuk berobat ke dokter Widodo. Selama post ini ditulis, masa pengobatanku sudah menginjak 2 minggu 1 hari. Alhamdulllah jerawat meradangku sudah mereda dan jarang sekali gatal-gatal kalau kena panas atau kotor.

Sebenarnya usahaku selama 2 minggu ini kurang maksimal karena ada pantangan-pantangan yang aku langgar. Pertama, dokter menganjurkan aku untuk tidur lebih dari 8 jam setiap harinya. Selama pengobatan aku sibuk dengan banyak hal, termasuk pra dan pasca pindahan warung. Selama 2 minggu ini hampir gak pernah aku tidur selama 8 jam, paling lama hanya 7 jam. Kedua, aku dilarang pakai penutup mulut atau masker ketika naik motor. Tahu kan jalanan itu bau, dan kadang tanpa sengaja ada asap knalpot atau pun asap rokok namplok di muka kita? Yap beberapa kali aku langgar, dan yak jerawat pun keluar lagi. Untungnya obat totol jerawatnya ampuh, totol semalam jerawat langsung kempes. Ketiga, gak boleh pencet jerawat. Pencet jerawat memang haram hukumnya, tapi tanganku gemes banget buat pencetin, hehe.
Setelah 2 minggu pengobatan; still without wearing powder, concealer, bb cream..just wearing
eye make up and lipstick ;)


So far, jerawatku gak meradang lagi kayak sebelum berobat dengan dr. Widodo, tap bukan berarti jerawat gak muncul lagi ya. Jerawat masih keluar kecil-kecil tapi gak berubah jadi besar-besar lagi. Sekarang PRnya sih tinggal bekas jerawatnya, karena kulitku putih jadi kelihatan banget bekasnya :(

Oh ya selama 2 minggu aku jarang banget bakai bedak, mungkin cuma 2 kali dan itu saja karena kondangan. Kalau kalian bilang "kok gak ada perubahan?", ada banget kok sebenernya. Dibanding dengan perawatan-perawatan kulitku sebelumnya (perawatan kulit berjerawat), dr. Widodo ini lebih yahud sih. Masih ingat kan dr Widodo menganjurkan aku untuk pakai sabun Lux putih bantangan untuk facial-wash ku di sore hari? Surprisingly it works! Selama 2 minggu ini gak ada breakout gara-gara pakai sabun batangan Lux ini, gak ada rasa gatel, kering atau ketarik-tarik, berasa bersih aja. 

Setelah minggu ke-2 aku memutuskan untuk kembali ke skin care-ku yang dulu, skin care regime sebelum jerawat meradang. Kenapa gak ke dokter Widodo lagi? Karena sebenarnya ini termasuk anjuran dokter Widodo, beliau menganjurkan untuk balik ke dokter estetika aku yang dulu kalau jerawat sudah tidak meradang. Selain itu aku juga udah gak sabar sih untuk balik ke my first skin care regime, hehe..

Buat kalian yang sedang jerawatan meradang, aku sarankan untuk berobat ke dokter spesialis kulit karena mereka lah pakarnya. Jerawat itu banyak faktornya, gak cuma karena salah kosmetik atau setres saja, bisa juga dari makanan. Dan jangan banyak-banyak ngaca karena nanti jadi setres, gemes pengen pencet-pencet jerawat, terus jerawat jadi gak sembuh-sembuh deh. Jadi kudu sabaaaar :)

Sekian update aku kali ini, mungkin setelah ini aku akan balik lagi ke topik resep-resepan karena aku kangen banget bisa berbagi resep di blog. 

Semoga bermanfaat buat kalian, see you at next post!



P.S : blog ini ditulis setelah 2 minggu pengobatan, karena draft lupa belum dipublikasikan jadilah post ini dipublikasikan seminggu kemudian.

Monday, 18 July 2016

My Acne Journal: Berobat di dr Yohanes Widodo, SpKK

Hai..

Melanjutkan post selanjutnya, di post ini aku akan sharing pengalamanku berobat di dokter Widodo sedetail mungkin. Siapa tahu bermanfaat buat kalian yang ingin berobat dengan beliau.

Dokter Widodo ini adalah salah satu dokter kulit senior dan sudah terkenal dari dulu, bahkan dari jaman mama muda dulu. Setahu aku beliau praktek di RS Sardjito, RS Panti Rapih dan membuka tempat praktik di Apotek Panji yang beralamat Jalan Kolonel Sugiyono, dekat Museum Perjuangan, kanan jalan kalau dari arah jalan Taman Siswa.

Aku sendiri memilih datang untuk ke tempat prakteknya yang berada di Apotek Panji. Berbekal nekat, untuk pertama kalinya aku kesana jam 3 sore. Sampai disana ternyata nomor antrian sudah penuh, setiap harinya beliau hanya melayani 32 pasien saja dengan jam praktek pukul 19.30-selesai. Mbak penjaga bilang aku harus datang lagi keesokan paginya pukul setengah delapan karena pendaftaran dibuka pukul delapan pagi.

Keesokan paginya aku sampai di TKP setengah 8 tepat dan sudah baaanyak sekali pasien yang mengantri. Sampai jam 8 tepat, folding gate dibuka lalu aku buru-buru ikut masuk ke apotek. Tiba-tiba seorang ibu-ibu tanya ke aku "Mbak baru sekali datang ya? Udah daftar ke masnya?" sambil menunjuk ke bapak-bapak baju hitam. "Belum bu, harus ke bapaknya dulu ya?". "Harus mbak, soalnya sebelum dicatet ke buku pendaftaran mbak harus tulis nama ke masnya dulu..". Jegleerrr, jadi aku nungguin lama-lama ternyata sia-sia sudah. Hiks..

Foto sehari sebelum berobat di dokter Widodo, serem ya :(


Untuk kedatangan yang ketiga aku bertekad untuk berangkat lebih pagi, setelah sholat subuh langsung ke dokter Widodo pokoknya. Tapiii kenyataannya setelah sholat subuh aku malah gelundungan di kamar, cek stock warung yang habis, cek email, dusel mama, dan gak kerasa sudah jam 6! Tanpa pikir panjang (dan gak mandi, hehe) aku langsung berangkat, untung hanya 10-15 menit perjalanan dari rumah. Sesampainya disana ternyata baru ada satu orang dan bapak pencatat calon pasien. Ciri-ciri bapak ini rambutnya gondrong, dicepol, pakai jaket jeans, dan bawa-bawa pulpen kertas untuk mencatat calon-calon pasien. Kalau bingung, bisa tanya ke tukang parkir. Kalau ditanya bisa gak titip nomor antrian ke bapaknya? Hmmm aku kurang tahu kalau untuk itu. Sebenarnya pendaftaran bisa via telepon, tapi kamu harus berkali-kali supaya telepon bisa diangkat dan dicatat namanya..itu pun kalau beruntung karena saking banyaknya.

Saat aku mencatatkan namaku, aku mendapatkan nomor urut 10. Setelah aku lihat lagi ternyata nomor urut 1-7 disisihkan untuk pasien balita dan lansia. Walaupun nomor urutku 10, belum tentu nomor urut tersebut adalah nomor periksaku karena aku harus menunggu sampai pukul 8 untuk menuliskan namaku di buku pendaftaran. Sebetulnya setelah menuliskan nama ke bapak tersebut, kita bisa kok tinggal sebentar lalu datang lagi jam setengah 8. Tetapi aku memilih untuk tunggu saja. Ribet? Eits gak boleh manja ya, demi loh demi kulit sembuh dan kembali mulus. Akhirnya jam 8 tepat folding gate Apotek dibuka dan bapak tadi langsung ke depan untuk ambil buku daftar pasien. Nama pasien dipanggil satu persatu untuk menuliskan namanya lagi ke buku tersebut. Alhamdulillah dapat nomor antrian juga dengan nomor urut 11. Menurut bapak tukang parkir aku harus datang pukul 8 malam. Baiklah!

Nah malamnya aku datang pukul 8 kurang dan ternyata dokter belum juga datang. Kata ibu yang menjaga buku pendaftaran nomor antrianku bakal dipanggil sekitar pukul 9. Yasudah aku melipir dulu beli buah sebentar sambil mengulur waktu. Aku datang lagi pukul setengah 9 kurang dan antrian baru jalan 2 nomor. Kalau kata salah satu pasien nomor akan dipanggil secara selang seling dengan pasien anak dan lansia. Sounds unfair but it makes sense, yakali kan anak kecil atau lansia berobat jam 11 keatas..kasian toh? FYI, pasien disini beragam umur dan keluhan mengenai kulit; bukan hanya pasien yang berjerawat saja.

Namaku baru dipanggil pukul 10, sambil menahan ngantuk aku masuk ke ruang praktek. "Gimana nduk, apa keluhannya?", tanya beliau. Aku ceritakan keluhanku, berapa lama aku berjerawat, produk apa saja yang dipakai selama ini. Lalu beliau mengambil senter besar (beneran besar!) sambil mengecek kondisi kulit wajahku. Beliau manggut-manggut lalu menuliskan point-point riwayat jerawatku.


Beliau bilang aku harus menghentikan pemakaian toner, pelembab, milk cleanser, dan bedak padatku, facial washku masih boleh dipakai pagi hari tetapi sore hari atau setelah beraktivitas aku dianjurkan untuk menggunakan sabun batangan Lux putih. Yap, sabun mandi batangan Lux putih. Aku enggak sempat bertanya kenapa harus sabun Lux, tetapi kalau aku lihat ingredient sabun Lux batangan ini memang gak terlalu banyak dan seaneh sabun-sabun kebanyakan. 


Selain itu, beliau menyarankan aku untuk setiap sore keramas, tidur lebih dari 8 jam, enggak ada pantangan makanan, kalau naik motor tidak boleh pakai masker, helm harus dicuci, kaca helm sebaiknya diganti kalau sudah baret. Kenapa harus ganti kaca helm? Supaya penglihatan bening dan kaca tidak dinaikkan ketika berkendara. Intinya sih gak boleh buka kaca helm supaya debu-debu tidak menempel ke muka.


Kata beliau jerawat meradang ini akibat salah perawatan (chemical peeling), skincare yang terdahulu dan agak terlambat ditangani oleh ahlinya. Hiks, kali ini aku manut dok..kalau ada apa-apa aku langsung ke dokter kok :"(


Beliau memberikan resep berupa krim totol jerawat dipakai sebelum tidur dan obat antibiotik untuk 6 hari yang harus diminum sehari sekali setelah makan. Total biaya yang aku keluarkan yaitu Rp 323.000,- dengan rincian Rp 100.000,- untuk biaya pendaftaran dan konsultasi dan Rp 123.000,- untuk krim totol jerawat dan obat antibiotik Minocycline 100 mg. Jauh lebih murah dibandingkan perawatan jerawat sebelumnya..sebal!


Saat blog ini di tulis, pengobatan sudah berjalan 5 hari. Awalnya aku agak ragu dengan sabun Lux batangan, namun ternyata enggak bikin kering atau breakout loh. Dan selama 5 hari ini alhamdulillah ada perkembangan, walaupun belum jerawat belum hilang sepenuhnya tetapi satu persatu jerawat mulai kempes bahkan hilang. Setelah 2 minggu nanti aku akan update perkembangannya, semoga sudah bebas dari jerawat dan peernya tinggal menghilangkan noda jerawat.


Yang sudah pernah berobat di dokter Widodo share cerita kalian di comment ya. Semoga post kali ini membantu kalian yang ingin berobat dengan dokter Widodo. Sampai bertemu di post selanjutnya!

SEMANGAT!




P.S: PERHATIAN, aku tidak menyarankan kalian untuk menggunakan produk-produk yang aku gunakan tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter karena kondisi kulit setiap orang berbeda-beda.