Thursday, 4 June 2026

Krengsengan Kambing

Hai hai!

Berawal dari rasa penasaran setelah mendengar podcast Ray Janson Radio dengan bintang tamu William Wongso, jadi lah aku membuat Krengsengan Kambing. Padahal sekali pun aku belum pernah coba sajian khas Jawa Timur ini. Setelah coba baca beberapa resep sana sini, akhirnya aku membuat dengan resep yang aku sesuaikan dengan seleraku dan bahan yang tersedia. Kebetulan sekali di kulkas ada petis, jadi bahan ini gak aku skip.

 

Ternyata enak ya, rasanya mirip tongseng tapi dengan hint rasa dan aroma petis yang khas. Disantap dengan nasi hangat, potongan daun kol, dan juga bawang goreng, duh nikmatnya. Kalau ingin lebih pedas, tinggal gerus cabai rawit utuhnya. Wah makin mantap!

Menurutku kalau gak punya petis bisa diganti dengan terasi. Tentunya rasanya akan berbeda, namun tetap dapat rasa gurih fishy nya. Tapi apa masih dibilang Krengsengan? Hmm, sepertinya enggak ya. 

 

Resep Krengsengan Kambing

 

Bahan-bahan: 

500 gr daging kambing, potong-potong kecil

4 sdm kecap manis

1 sdm petis

1 batang serai, geprek

2 lembar daun jeruk

1 lembar daun salam

8 buah cabai rawit merah utuh

2 sdm air asam jawa 

2 sdt garam

1 sdm gula jawa

Air secukupnya 

Minyak untuk menumis 

 

Bumbu Halus:

3 siung bawang putih

5-6 siung bawang merah

5-7 buah cabai merah keriting 

1 ruas jahe

1 ruas lengkuas 

3 butir kemiri

1 sdt ketumbar bubuk

1/2 sdt merica 

 

Pelengkap:

Bawang Goreng

Daun Kol, iris tipis 

 

Cara Membuat:

Lumuri Daging dengan asam jawa, lalu diamkan selama kurang lebih 15 menit. Sisihkan.

Panaskan minyak dalam wajan, tumis bumbu halus, dau salam, daun jeruk, dan serai sampai harum.

Masukkan daging, tumis daging sampai berubah warna. Masukkan kecap manis, petis dan gula jawa, aduk rata. beri sedikit air lalu masak sampai daging empuk.

Masukkan garam dan cabai rawit utuh. Masak kembali sampai air menyusut. Koreksi rasa.

Jika sudah pas, matikan api.

Sajikan Krengsengan Kambing dengan taburan bawang goreng dan irisan daul kol.

 

Semoga menginspirasi!



Wednesday, 15 April 2026

Telur Dadar Padang

Lohaa!

Sebelumnya aku sudah share resep Tumis Kangkung Tauco Medan dengan Telur Puyuh; dan kali ini aku mau share resep untuk lauknya, yaitu Telur Dadar Padang. Sajian ini terinspirasi dari makanan puasa lalu. Aku dan keluargaku berbuka puasa di Rumah Padang dan kami cukup terkesan dengan telur dadarnya. Tebal, agak airy, berempah, gurih, dan agak pedas. Padahal kami jarang sekali pesan telur dadar kalau makan nasi Padang, tapi entah kenapa kala itu telur dadarnya terlihat sangat menggoda. Gak disangka ternyata kami suka sekali, hampir saja tambah satu potong lagi. Untung saja sudah habis di display makanan.

Setelah mengingat-ingat rasa dan cari-cari resep di buku resep dan internet, akhirnya jadi lah resep ini. Bersyukur pohon kunyit dibelakang rumah sedang subur-suburnya jadi bahan terpenting ini gak perlu aku skip. Tapi kalau kalian gak punya daun kunyit, boleh diskip. Rasanya tetap enak kok, walaupun pasti rasanya akan berbeda.

Dari beberapa resep yang aku baca, telur dadar Padang biasanya menggunakan telur bebek. Tapi karena gak ada telur bebek, aku pakai telur ayam aja. Intinya pakai aja bahan yang ada. Rasanya gak beda jauh kok, hanya kalau kalau pakai telur bebek rasanya akan lebih gurih dan teksturnya lebih padat.

Aku juga menambahkan sedikit baking powder agar lebih fluffy dan airy. Lalu penggunaan tepung beras dan tepung terigu tidak boleh dihilangkan. Karena tepung terigu membuat telur dadar lebih kokoh dan tepung beras membuat pinggirannya lebih crispy.

Membuat telur dadar Padang ini agak tricky. Gunakan wajan anti lengket atau teflon untuk menghindari adonan lengket di wajan. Lalu gunakan api kecil agar tidak gosong dan telur dadar bisa matang sempurna. Tutup wajan agar telur bisa matang dengan baik, dan memudahkan proses membalikkan telur. Dan jika ingin luarnya keriting berenda, gunakan minyak yang agak banyak ya.

Telur dadar Padang lebih terasa otentik dengan penambahan kelapa parut sangrai. Aromanya akan terasa lebih wangi dan nutty. Dan kalau ingin lebih pedas, bisa ditambah rawit merah.

 

Telur Dadar Padang

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahan-bahan:

5 butir telur ayam atau bebek

2 sdm tepung beras

1 sdm tepung terigu 

1/2 sdt baking powder

1 lembar daun kunyit muda ukuran sedang, rajang halus

1 batang daun bawang, rajang halus

2 lembar daun jeruk, rajang halus

1 batang seledri, rajang halus

2 sdm kelapa parut sangrai

1/2 sdt garam

1/4 sdt lada bubuk

100 ml minyak untuk menggoreng

 

Bumbu Halus:

2 siung bawang putih

4 siung bawang merah

5 buah cabai keriting merah

1 ruas kunyit

 

Cara Membuat:

Kocok telur bersama tepung terigu dan tepung beras sampai rata. Masukkan garam, lada, dan bumbu halus, kocok sampai benar-benar rata.

Masukkan rajangan daun kunyit, daun jeruk, daun bawang, daun seledri, dan kelapa parut sangrai; aduk rata.

Panaskan minyak dalam wajan dengan api sedang. Tuangkan adonan, kecilkan api, lalu tutup wajan. Masak selama 7 menit, sampai adonan 3/4 matang atau bagian bawah berwarna kecokelatan dan bagian tengah tidak terlalu cair.

Balik adonan dengan cara angkat telur dadar dengan serok masak lalu balik. Masak selama 5 menit atau sampai bagian bawah berwarna kecokelatan.

Angkat, tiriskan.

 

Dicoba dirumah ya. Semoga menginspirasi! 

Saat sudah mulai hangat, potong sesuai selera. Sajikan.  

 

Tumis Kangkung Tauco Dengan Telur Puyuh

Hai!

Aku sering banget laper mata buat beli bahan-bahan makanan yang menarik dan bikin penasaran untuk dicoba. Dari sekian bahan makanan yang aku beli, salah satu bahan makanan yang sudah nongkrong lama di lemari adalah Tauco Medan Cap Boldu Ayam. Padahal waktu mau beli tuh udah kepikiran bikin ini itu, tapi akhirnya baru dibuka setelah beberapa bulan kemudian.

Sebenarnya tauco mudah sekali ditemui di Jogja, tapi entah kenapa aku gak pernah menemukan tauco dengan bulir kedelai yang masih banyak dan utuh. Lalu algoritma sosial media pun bekerja. Muncul lah video mbak Ade Putri dan kawan-kawannya mengunjungi pabrik pembuatan tauco Medan Cap Boldu Ayam. Aku mulai melihat-lihat unggahan di instagramnya satu persatu. Wah aku amazed sekali dengan proses pembuatan tauco yang masih tradisional.


Proses pembuatannya mengingatkanku dengan drama Korea "Tastefully Yours". Ada episode dimana pemeran utamanya mengunjungi tempat pembuatan doenjang, bumbu masak Korea yang terbuat dari kedelai yang difermentasi. Dilihat-lihat, proses pembuatannya mirip sekali dengan tauco. Dari proses merebus kedelai, peragian, penjemuran di bawah sinar matahari, bahkan proses pemeramannya sama-sama menggunakan tembikar. Bedanya doenjang kedelainya dihancurkan dan tauco tidak. Kebetulan aku punya doenjang di kulkas, aku coba bandingkan rasanya, wah ternyata memang mirip. Dari rasa asin, nutty, dan aroma khas makanan fermentasi. Walaupun cita rasanya mirip, tapi sepertinya doenjang gak bisa menggantikan peran rasa tauco dalam masakan Nusantara.

Dan kemaren aku menambahkan tauco Medan ini ke dalam Tumisan Kangkung dengan Telur Puyuh yang aku masak. Ternyata jadi lebih spesial ya. Ada aroma khas tauco yang bikin tumisan kangkung makin nikmat, apa lagi dimakan bersama nasi hangat dan telur dadar. Duh, nikmat dunia!

Besok masak apa lagi ya pakai tauco Medan ini? Sayur tauco Medan? Sapo Tahu? Atau ada ide lainnya?

 

Tumis Kangkung - Telur Puyuh

Bahan-bahan:

1 ikat kangkung, petiki

8-10 butir telur puyuh

2 siung bawang putih, iris halus 

4 siung bawang merah, iris hakus

3 buah cabai keriting merah, iris serong

1/2 buah tomat ukuran sedang, potong jadi 4 

2 potong lengkuas 

1 sdm tauco Medan

1 sdm saus tiram 

1 sdt gula jawa

1/4 sdt lada halus

minyak untuk menumis

 

Cara Membuat:

Panaskan 4 sendok makan minyak dalam wajan dengan api sedang. Tumis bawang putih dan bawang merah sampai layu. Masukkan cabai keriting merah, tomat, dan lengkuas tumis sampai harum.

Masukkan tauco, saus tiram, gula jawa, lada, dan telur puyuh. Aduk rata.

Besarkan api, masukkan kangkung. Aduk-aduk sampai kangkung melunak. Kecilkan api, koreksi rasa. Jika sudah pas, matikan api.

Angkat, sajikan. 

 

 

Semoga menginspirasi!  

 

Tuesday, 7 April 2026

Ayam Goreng Bawang Putih

Holaa~

Di blog sebelumnya aku sudah share resep Kari Pakis dengan Keputren, dan kali ini aku akan berbagi resep lauk pendampingnya yang sudah aku ceritakan sebelumnya, yaitu Ayam Goreng Bawang Putih. Sajian ini mudah sekali membuatnya. Sebenarnya resep dan video cara membuatnya sudah aku share di Instagram dan TikTok. Namun rasanya kurang afdol kalau gak aku tulis di blog. Selain itu, aku juga lebih nyaman melihat resep dalam bentuk tulisan. Kalau harus cari di social media rasanya lebih repot. Ada yang setuju?

Resep Ayam Goreng Bawang Putih ini aku dapat dari twitter, lalu aku modifikasi lagi sesuai seleraku. Rasanya gurih, garing di luar, daging ayamnya juicy, makin ciamik dipadu dengan  bawang putih goreng yang gurih dan aromatik. Dimakan dengan nasi hangat dan sambal bawang; wah nikmat sekali! Dipadu dengan Kari Pakis yang aku buat kemaren pun solid enak. Ah cuma deskripsiin aja udah bikin laper.

Bisa dibilang, resep ini termasuk resep yang luwes. Kalau ingin agak pedas bisa ditambah cabai bubuk, kalau mau lebih aromatic bisa ditambah ketumbar bubuk lebih banyak. Atau seperti yang aku buat kemaren, karena ingin ada aroma daun kari, aku tambahkan daun kari pada saat proses menggoreng. Bahkan kalau bumbu sisa, masih bisa untuk menggoreng terong, tempe, atau pun tahu. Jadi, apa itu bahan makanan sisa?

 

Ayam Goreng Bawang Putih


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahan-bahan:

500-600 gr daging ayam, potong bite size

10 siung bawang putih berkulit, geprek namun jangan sampai hancur

3 sdm tepung tapioca

3 sdm tepung maizena

50 ml air

Minyak untuk menggoreng

 

Bumbu Halus:

5 siung bawang putih

4 siung bawag merah

1 sdt garam

½ sdt kaldu bubuk (atau penyedap andalanmu)

1 sdt ketumbar bubuk

¼ sdt lada  bubuk

 

Cara Membuat:

Lumuri daging ayam dengan bumbu halus secara merata. Diamkan selama minimal 15 menit agar bumbu meresap sempurna.

Masukkan air, tepung maizena dan tepung tapioca, aduk rata.

Panaskan minyak dalam wajan dengan api sedang. Goreng ayam sampai keemasan. Masukkan bawang utuh geprek, goreng sebentar sampai ayam berwarna kecokelatan dan bawang putih berwarna keemasan.

Angkat, sajikan,

 

 

Selamat mencoba, dan semoga menginspirasi!

Sunday, 5 April 2026

Kari Pakis Dengan Keputren


Hey ho!

Beberapa waktu lalu aku belanja di pasar Kranggan dengan niat hati beli sayur untuk stok jualan. Lalu mataku tertuju dengan satu sayuran hijau yang gak umum untuk orang Jogja. Fiddleheads atau biasa kita sebut Pakis. Sayuran ini memang agak jarang ditemui di Jogja, bahkan aku pernah ketemu di Superindo dengan ikatan kecil dan harganya bikin batuk kecil. Agak mahal ya bun. Ndilalah harga Pakis di pasar cuma 6.000 per ikat. Tanpa pikir panjang, langsung bungkus dua ikat pakis, padahal belum tahu mau dimasak apa.

Lalu teringat kapan lalu aku pernah makan Gulai Pakis di acara Makan Tengah di Warung  Pelan-Pelan, dan saat itu yang memasak adalah La Ode Master Chef Indonesia. Langsung punya ide untuk masak Gulai Pakis deh. Setelah buka-buka kulkas dan lemari, aku menemukan bumbu kari yang sudah lama nongkrong di lemari. Berhubung sedang mager buat prepare bumbu gulai, akhirnya aku memutuskan untuk memasak Kari Pakis dengan Keputren alias jagung muda. Dan untuk lauknya, aku memasak Ayam Goreng Bawang Putih. Untuk resepnya aku tulis di blog selajutnya ya.

Mengolah pakis ternyata cukup mudah. Tinggal petiki pucuk batang pakis yang masih muda dan belum berkayu, dan untuk daunnya pilih yang muda. Memasaknya juga sebentar, seperti memasak kangkung atau bayam. Untuk rasa dan tekstur mirip kangkung dan tidak ada bau langu sama sekali. Sepertinya lain waktu mau beli pakis lagi ah!

 

Kari Pakis dengan Keputren

 

Bahan-bahan:

2 ikat Pakis, petiki pucuk dan daun mudanya

4-5 buah Keputren, iris setebal 1/2 cm 

3 siung bawang putih, iris halus

4-5 siung bawang merah, iris halus

2 sdm kari bubuk instan (aku pakai merek Desaku)

4 buah cabai merah keriting, potong-potong

2 potong lengkuas

65 ml santan instan

100 ml air

1 sdt garam

1 sdt gula jawa

1/4 sdt lada bubuk 

minyak untuk menumis

 

Cara Membuat:

Panaskan minyak dalam wajan, tumis bawang putih  dan bawang merah sampai harum. Masukkan cabai dan lengkuas, tumis sampai cabai layu. Masukkan air, masak hingga mendidih.

Masukkan keputren dan bubuk kari instan, masak kembali selama 5 menit. Lalu masukkan pakis, santan, garam, gula jawa, dan lada bubuk. Masak kembali dengan api sedang sambil diaduk-aduk sampai pakis matang.

Koreksi rasa. Jika sudah pas, matikan api.

Angkat, sajikan.

 

Semoga menginspirasi! 

Wednesday, 1 April 2026

Mie Kopyok Semarang


Hai hai!

Sebelumnya, mohon maaf lahir batin untuk blog-ku yang sangat jarang aku sentuh. Semoga ke depannya aku bakal isi dengan banyak hal, terutama cerita-ceritaku tentang kuliner dan gastronomi. Ya ya ya, hampir tiap tahun rutin menulis blog jadi resolusi yang bisa dibilang omong kosong, tapi ayo coba lagi di tahun 2026 ini. Ada aamiin?!

Kali ini aku mau berbagi resep salah satu sajian yang aku buat untuk misi menghabiskan sisa ketupat Lebaran kemaren. Karena cuaca Jogja panas terus, jadi butuh yang seger dan gak berat. Jadi sebelumnya aku sudah olah ketupat jadi Tahu Guling "Mbantul" yang resepnya sudah aku share disini.

Karena umur ketupat ini hampir habis alias expired 2 hari lagi, aku putar otak mau dibikin apa. Tiba-tiba mama cerita waktu kuliah di Undip dan hari-harinya waktu di Semarang. Ah, keluar lah ide bikin Mie Kopyok aja!

Oh by the way, ada cerita menarik tentang Mie Kopyok di keluargaku. Jadi orangtuaku punya aku dan kakakku setelah 2 tahun pernikahan. Suatu hari orangtuaku main ke rumah budhe di Semarang, mereka makan Mie Kopyok yang langganan mama waktu masih tinggal di sana. Selang beberapa lama, mamaku hamil kakakku. Lucunya, hal yang sama terjadi di kehamilan mama yang kedua, yaitu aku. Memang kehendak Tuhan aja sebenernya, tapi kok ya bisa sama persis.

Lalu cerita ini selalu jadi ice breaking almarhum papa tiap ada saudaranya yang udah menikah tapi belum punya anak. Beliau selalu menyarankan main ke Semarang buat makan Mie Kopyok biar cepet hamil. Surprisingly banyak yang coba dan ada yang berhasil. Dan cerita ini aku ceritakan juga ke teman-temanku yang lagi promil. Haha..

Kembali ke Mie Kopyok. Sajian khas Semarang ini bikinnya gampang sekali, bahannya pun sangat sederhana. Isiannya ada potongan ketupat, mie kuning, tahu pong, tauge rebus, kuah gurih, remukan kerupuk gendar, irisan seledri, bawang goreng, dan kecap manis. Tambah sambal ulek kalau suka. Walaupun sangat sederhana, tapi rasanya ringan dan cocok sekali dimakan waktu siang-siang.

 

Mie Kopyok Semarang


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahan-bahan:

2-3 buah ketupat, potong-potong

250 gr mie kuning basah (bisa diganti mie telur)

5-6 potong tahu pong

2 genggam tauge panjang

Bahan Kuah:

3-4 siung bawang putih, haluskan

1 1/2 sdt garam

1 blok kaldu sapi atau ayam (bisa ganti totole atau penyedap lainnya)

1/2 sdt merica bubuk 

1500 ml air 

Pelengkap:

Kerupuk gendar

Irisan seledri

Bawang Goreng

Kecap manis

 

Cara Membuat:

Rebus sebentar tahu pong, tauge, dan mie kuning secara terpisah. Sisihkan.

Kuah: Rebus air sampai mendidih. Masukkan bawang putih, garam, merica halus, dan kaldu blok, masak selama 15 menit. Koreksi rasa. Jika sudah pas, matikan api.

Penyelesaian: Tata irisan ketupat, mie kuning, irisan tahu pong, tauge, lalu siram dengan kauh secukupnya. Beri remukan kerupuk gendar, irisan seledri, bawang goreng, dan kecap manis secukupnya. Sajikan.

Catatan: Jika ingin pedas, beri cabai rawit yang digerus di piring sebelum penyelesaian.

 

Dicoba di rumah ya! Semoga mengispirasi! 

Sunday, 9 November 2025

Walking Tour bersama @Djedjak.Rasa Edisi Kotagede

Hola!

Kali ini aku ingin cerita pengalamanku ikut walking tour dengan tim Djedjak Rasa beberapa waktu lalu. Awalnya aku mager mau share di blog, tapi kok sayang kalau gak aku ceritakan disini. So, here you go.

Beberapa waktu lalu aku mengikuti walking tour dengan Djedjak Rasa disekitar Kotagede, salah satu rute yang sudah aku pengen dari lama dan baru kesampaian. Rute Kotagede kali ini berbeda dari biasanya. Karena tour berbarengan dengan Pasar Lawas Mataram, jadi rute Pasar Legi ditiadakan. Walaupun begitu, gak mengurangi keseruan agenda jalan-jalan kali ini. Walaupun cuaca kala itu panasnya ampuuun!
 
 
Kami berkumpul di titik temu yang sudah di share di group chat, yaitu taman kota RTHP Bumen, Kotagede. Sebelum jalan-jalan, kami berkenalan satu sama lain dan mendengar sedikit cerita tentang sejarah Kotagede dari tim Djedjak Rasa. Kotagede dahulu merupakan bagian dari hutan Alas Mentaok sebelum menjadi wilayah Kesultanan Mataram Islam dan menjadi wilayah perabadan Islam tertua di Yogyakarta. Dan kini kita masih bisa merasakan budaya Jawa-Islam yang terlihat dari bentuk bangunan maupun kehidupan warga Kotagede.

 

Singkat cerita  kami mulai berjalan menyusuri jalanan kampung menuju pengrajin kue kembang waru khas Kotagede yang proses pembuatannya masih sangat tradisional. Usaha tersebut dikelola oleh pasangan suami-istri, Pak Bas dan Bu Gidah sejak tahun 1983. Perjalanan menuju ke sana tidak terlalu lama, mungkin hanya 5 menit saja.

Sesampainya di sana, kami disambut oleh Pak Bas dengan senyumnya yang sumringah. Kami langsung dipersilahkan untuk masuk ke dalam dapur untuk melihat langsung proses pembuatan kue kembang waru. Tempatnya sangat sederhana. Di dapur terlihat bu Gidah sedang menuangkan adonan ke dalam cetakan di depan oven tradisional yang masih menggunakan arang. Disana juga aku melihat ada adonan roti yang sedang dikocok dengan alat yang wujudnya gak seperti mixer pada umumnya. Sepertinya custom. Unik ya?

Gak perlu menunggu lama untuk bisa menikmati roti kembang waru karena sudah ada roti-roti yang baru matang tersusun rapi di atas tampah bambu. Pada dasarnya, roti kembang waru adalah sponge cake atau bolu. Rasanya sederhana, manisnya pas, ringan, dan airy. Dan ada aroma smokey tipis dari penggunaan arang yang menjadi bahan perapian. Ah cocok sekali buat teman minum kopi atau teh di pagi atau sore hari.

Kata Pak Bas, dulunya roti kembang waru terbuat dari gula jawa, tepung ketan dan telur kampung. Namun karena perkembangan jaman dan perkembangan selera, kini bahan yang digunakan diganti menjadi gula pasir, tepung terigu, dan telur ayam broiler. Selain itu penggantian bahan-bahan juga bisa menekan harga agar tetap murah namun masih bisa dinikmati oleh banyak orang. 

Roti kembang waru ini juga punya cerita filosofinya loh. Kue kembang waru berbentuk bunga dengan delapan kelopak yang memiliki arti 8 elemen kehidupan; air, api, tanah, udara, matahari, bulan, bintang, dan langit. Dan setiap elemen memiliki artinya masing-masing, namun jujur aku lupa apa saja artinya. Tapi intinya, tiap kali kita menyantap kue kembang waru ini diharapkan bisa menjadi pengingat 8 elemen kehidupan tersebut.


Sebelum kami ke tempat selanjutnya, kami diajak bernyanyi lagu kembang waru yang iconic ciptaan pak Bas. FYI, pak Bas dahulu seorang seniman lakon ketoprak dan macapat loh. Makanya waktu kita diajak ambil nada, pak Bas bisa tahu dengan mudah kalau ada yang melenceng dari nada. Lucunya kami masih menyanyikan potongan lagu kembang waru selama perjalanan sampai acara selesai. Lagunya sangat nempel di otak kami. Hahaha..

Rute selanjutnya, kami dibawa ke tempat pengrajin perak “Salim Silver”. Di sana kami bisa melihat proses pembuatan kerajinan perak secara langsung. Para pengrajin terlihat serius dan telaten mengerjakan kerajinan perak. Selain itu kami juga diajak ke galeri untuk melihat produk yang dibuat; dari aksesoris, alat makan, sampai pajangan-pajangan yang cantik.


Kerajinan perak di Kotagede sudah tersohor sejak dulu, bahkan dari jaman Kerajaan Mataram. Saat era Covid-19, kerajinan perak Kotagede mengalami penurunan yang sangat drastis karena tidak ada wisatawan yang datang dan bahan baku yang semakin mahal. Para pengrajin akhirnya lebih fokus menjual kerajianan perak yang lebih banyak peminatnya seperti aksesori dan memasarkannya lewat pasar online sehingga bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Perlahan-lahan ekonomi semakin baik dan para pengrajin bisa bertahan sampai saat ini.

Lalu kami mulai berjalan lagi menuju ke rute selanjutnya. Sebelumnya kami diajak mampir sebentar di Pasar Legi. Sambil berteduh dari sinar matahari yang terik, tim Djedjak Rasa bercerita sedikit tentang Pasar Legi. Jujur, aku gak bisa banyak menangkap info kala itu. Hahaha, serius panas sekali loh. Tapi info yang aku bisa tangkap adalah Pasar Legi biasanya akan lebih meriah di saat hari Legi (salah satu hari Kalender Jawa). Yang dijajakan akan makin beragam dan pasar dibuka sampai malam. 


Lanjut! Rute selanjutnya kami diajak ke Jalan Rukunan, dimana terdapat kompleks pemukiman yang bangunannya masuk dalam Cagar Budaya Yogyakarta. Jalan Rukunan dikenal dengan sebutan Between Two Gates (diantara dua gerbang dan Lawang Pethuk (pintu yang bertemu). Kompleks ini sudah berdiri sejak tahun 1800an. Walaupun sudah banyak perubahan, namun beberapa bangunan masih mempertahankan tata ruang rumah tradisional. Sampai saat ini, kompleks pemukiman ini masih dihuni oleh beberapa keluarga. Oh ya, karena bangunan-bangunan masuk ke dalam cagar budaya, renovasi tidak boleh dilakukan sembarangan. Harus ada persetujuan dari pemerintah provinsi. Gak bisa tuh ujug-ujug renovasi jadi rumah scandanavian atau Japanese minimalism.


Cuaca makin panas, namun semangat masih membara! Dan rute selanjutnya adalah Pasar Lawas Mataram yang diselenggarakan di pelataran halaman Masjid Besar Mataram, Kotagede. Sebagai jajanan pasar mania mantap, tentu saja aku happy banget! Disana banyak sekali jajanan pasar tradisional yang sudah dikurasi panitia, jadi jajanannya sangat beragam.

Sesampainya di Lokasi kami diajak berkeliling bersama panitia Pasar Lawas Mataram dan juga mendengarkan penjelasan tentang acara yang sedang berlangsung. Karena kami datang di pagi hari dan pengunjung belum begitu banyak yang datang, jadi kami bisa leluasa berkeliling.


Jajanan yang pertama aku beli adalah Es Belimbing Wuluh dengan ekstra es batu. Duh ternyata seger banget ya! Lalu aku mampir ke jajanan pasar khas Kotagede, Kipo alias iki opo. Kayaknya kalau ke Kotagede gak bawa pulang jajajanan manis ini kayak kurang afdol.


Karena banyak jajajanan yang dijajakan, jadi aku memutuskan untuk beli jajanan yang belum pernah aku temui atau jarang aku temui di pasar-pasar yang sering aku kunjungi. Tenan selanjutnya yang aku kunjungi yaitu penjaja Legomoro. Legomoro artinya datang dengan rasa lega, biasanya jajananan ini dijadikan hantaran pernikahan dari keluarga pengantin Wanita untuk pengantin pria. Di tenan tersebut juga menjajakan cemilan bernama Prawan Kenes. Basically pisang panggang yang diiris tipis lalu dijapit dengan bambu dan diberi saus santan kental. Rasanya tentu saja rasanya manis, gurih, dan smokey tipis. Prawan Kenes artinya gadis genit, entah kenapa dinamai nama tersebut. Bahkan ibu penjualnya pun gak tahu kenapa.

Itu saja? Tentu tidak! aku juga jajan beberapa jajanan lain seperti gombrong, getuk kicak, jenang tape, dan es rujak kweni yang segar banget!

Setelah puas mengunjungi Pasar Lawas Mataram, kami lanjut berjalan kaki menuju ke lokasi terakhir untuk makan siang bersama di Warung Jawi. Tak hanya makan siang, kami juga diajak menceritakan kembali pengalaman yang berkesan selama walking tour ini. Ah rasanya menyenangkan sekali bisa ikut walking tour kali ini. Walaupun awalnya canggung, namun makin lama kami makin bisa membaur. Ah senangnya! Sepertinya aku bakal ikut walking tour lagi, namun di rute yang berbeda.

Oh ya, jika kalian tertarik dengan walking tour dengan tim Djedjak Rasa, kalian bisa follow instagramnya @Djedjak.Rasa. Disana kalian bisa lihat jadwal kapan walking tour diadakan dan juga agenda-agenda seru lainnya.

Sampai ketemu lagi, kapan-kapan!

Wednesday, 11 June 2025

Abura Soba ala D.O EXO (Versi Halal)


Lagi-lagi aku recook masakan yang terinspirasi dari variety show Korea yang aku tonton. Kali ini aku share resep Abura Soba yang dibuat Doh Kyungsoo aka D.O EXO saat di Hokaido, Jepang di variety Show “No Math School Trip”.

 

Di variety show ini, Kyungsoo membuatnya dengan versinya sendiri. Mie soba dipadukan dengan lard atau lemak babi, kecap asin, potongan daun bawang, mema atau acar rebung, tumisan daging, cincangan bawang Bombay, nori, onsen egg, dan terakhir diberi tahuran biji wijen sangrai halus dan gochugaru. Menurut peserta lain yang sudah mencicipi Abura Soba, seperti Zico, Crush, Choi Jung Hoon “Jannabi”, Yang Se Chan, dan Lee Yong Jin, rasanya enak sekali kayak bikinan chef. Kata mereka, Kyungsoo udah cocok untuk buat restaurant. Wah jadi makin penasaran sama masakannya Kyungsoo, apalagi dia kan terkenal jago masak dan punya Korean Cuisine Chef License. Juga pernah menjadi juru masak di kamp militer saat menjalani wajib militer.

Selain di No Math School Trip, Abura Soba menjadi salah satu menu yang di buat Kyungsoo bersama Kwangsoo di acara KKPP Food-GBRB Spinn Off  di Youtube Channel Moon. Di acara tersebut, mereka harus memasak Abura Soba untuk para pegawai Studio Moon. Dan lagi-lagi Abura Soba ala Kyungsoo mendapat banyak pujian.

Sejujurnya aku udah beberapa kali coba remake Abura Soba ala Kyungsoo ini tapi versi halal, tentunya. Aku udah coba berbagai macam mie; udon, mie telur, dan terakhir ini aku pakai angel hair pasta. Dan semuanya sama enaknya. Jadi kalau kalian gak punya soba, bisa pakai mie yang kalian punya di rumah.

Untuk tumisan ayam, aku paling suka pakai bumbu teriyaki. Rasa manis dari bumbu teriyaki bikin rasa makin seimbang. Tapi kalau pengen rasa asin gurih, saus teriyaki bisa diganti garam dan merica saja. Dan kalau gak bisa nemu mema atau rebung kaleng di daerahmu, bisa diganti dengan baby corn atau jagung muda yg sudah direbus.

Oh ya, aku juga sudah pernah share video masak Abura Soba di TikTok dan di kolom komentar ada yang bertanya “apa gak terlalu bau bawang?”. Nah, makanya bawang Bombay yang sudah dicincang perlu dicuci untuk mengurangi bau bawang yang menyengat. Aku sendiri dicuci sekali aja udah cukup, bau bawangnya masi terasa namun enggak terlalu strong. Cuma kalau mau lebih mellow lagi baunya, bisa dicuci 2-3 kali.

 

Resep Abura Soba

 

Bahan-bahan:

75 gr angel hair pasta

1 sdm minyak wijen

2,5 sdm kecap asin

Sejumput kaldu bubuk

 

Bahan-bahan Tumis Ayam Teriyaki:

75 gr daging ayam, potong-potong

1 sdt saus teriyaki

1 sdt bawang putih cincang

Sejumput lada hitam

Minyak untuk menumis

 

Pelengkap:

Onsen Egg atau telur rebus setengah matang

Irisan rebung kaleng

Bawang Bombay cincang, cuci 2-3li dengan air matang

Irisan daun bawang

Potongan nori

Biji wijen sangrai bubuk

Gochugaru atau cabai bubuk

 

Cara membuat:

Onsen Egg

Rebus air sampai mendidih, lalu matikan api. Masukkan telur ayam, rendam selama kurang lebih 15 menit. Jangan lupa aduk-aduk sesekali di menit-menit awal agar putih telur matang merata dan kuning telur masih setengah matang. Setelah 15 menit, angkat telur lalu pindahkan ke air dingin agar menghentikan proses pemasakan. Sudah deh, Onsen Egg siap digunakan.

Tumis Ayam Teriyaki

Campurkan semua bahan kecuali minyak, aduk rata dan diamkan selama kurang lebih 10 menit.
Panaskan minyak dalam wajan, tumis ayam sampai matang dan berwarna kecokelatan. Angkat, sisihkan.

Penyelesaian:

Rebus angel hair sampai matang.
Selagi menunggu pasta matang, siapkan mangkuk, masukkan minyak wijen, kaldu bubuk, dan kecap asin; aduk rata.
Masukkan angel hair pasta yang sudah matang ke dalam mangkuk, lalu tata bahan-bahan pelengkap diatasnya.
Sajikan.



Jangan lupa coba di rumah ya, semoga menginspirasi!